HIDROPONIK – Kepala SATP Sonianto Kuddi, didampingi Wakasek Bidang Kurikulum,Alphius Paat, bersama Kadiv Humas YPMAK, mengamati hidroponik di SATP, Selasa (3/2/2026)
TIMIKA, timikaexpress.id – Di balik hamparan pipa-pipa putih di dalam sebuah greenhouse, anak-anak Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP) Timika tampak tekun mengamati tanaman hijau, pakcoy dan selada yang tumbuh berbaris rapi.
Mereka tidak sekadar menyiram atau memanen.
Di sana, para siswa belajar membaca angka, mencatat data, sekaligus memahami bagaimana ilmu pengetahuan dapat bertemu dengan dunia usaha.
Di bawah naungan Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK), pengelola dana kemitraan PT Fteeport Indonesia (PTFI), SATP mengembangkan pembelajaran sains berbasis data yang dipadukan dengan kewirausahaan, atau yang mereka sebut sebagai edupreneurship melalui budi daya tanaman hidroponik.
Belajar dari Data, Bukan Sekadar Perkiraan
Kepala SATP, Sonianto Kuddi, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk membentuk cara berpikir kritis para siswa.
“Anak-anak belajar bahwa setiap informasi harus didasarkan pada data, sehingga tidak mudah percaya tanpa bukti,” ujarnya, Selasa (3/2/2026).
Dalam praktiknya, siswa mencatat pertumbuhan tanaman secara rutin, mulai dari jumlah daun, tinggi batang, hingga waktu panen.
Catatan itu kemudian diolah dalam bentuk tabel dan grafik, menjadi bahan analisis di ruang kelas.
Dari kebun kecil di sekolah, mereka belajar mengenal metode ilmiah: mengamati, mencatat, membandingkan, lalu menarik kesimpulan.
Dikelola sebagai Unit Usaha Sekolah
Program hidroponik ini dikelola melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Edupreneur SATP.
Selama dua tahun berjalan, unit ini telah menghasilkan pendapatan sekitar Rp200 juta, dengan omzet bulanan mencapai Rp10 juta.
Dana tersebut dimanfaatkan kembali untuk mendukung kegiatan akademik, termasuk keberangkatan siswa mengikuti lomba-lomba sains tingkat nasional.
Hasil panen berupa pakcoy dan selada dipasarkan melalui kerja sama dengan PT Namo Jaya, kontraktor pemasok PT Freeport Indonesia.
Rata-rata produksi mencapai 100 kilogram setiap panen, dengan harga jual Rp50.000 per kilogram.
Greenhouse sebagai Laboratorium Hidup
Fasilitas greenhouse berukuran 40 x 25 meter persegi itu dilengkapi 20 meja tanam, masing-masing berkapasitas sekitar 1.000 lubang.
Dengan sistem tanam bergilir, panen dapat dilakukan setiap tiga pekan, ini membuat aktivitas belajar selalu berjalan seiring dengan siklus produksi.
Wakil Kepala SMP Bidang Kurikulum SATP, Elphianus Paat, menuturkan bahwa program ini bermula dari kunjungan ahli hidroponik PT Freeport Indonesia.
Setelah itu, pendampingan dilanjutkan oleh tenaga ahli PT Namo Jaya, Okto Magai, yang turut membangun greenhouse sekaligus melatih guru dan siswa.
“Selain hidroponik, anak-anak juga menanam di bedeng pertanian sebagai pembanding metode tanam,” jelasnya.
Bekal Hidup untuk Masa Depan
Bagi pihak sekolah, tujuan utama program ini bukan semata menghasilkan sayuran, melainkan membekali para siswa dengan keterampilan hidup.
SATP berharap pengalaman mengelola tanaman, membaca data, hingga memahami proses pemasaran dapat menjadi bekal bagi lulusan mereka di masa depan, baik untuk melanjutkan pendidikan, maupun merintis usaha sendiri di kampung halaman.
Dari balik kaca greenhouse, sains, disiplin, dan semangat kewirausahaan tumbuh bersamaan, menjadi bagian dari upaya SATP menyiapkan generasi Papua yang tangguh dan mandiri. (maurits sadipun)
Jumlah Pengunjung: 29

14 hours ago
8

















































