Kepala SATP, Sonianto Kuddi (kiri) dan Elpianus Paat, Wakil Kepala Sekolah SMP SATP (kanan)
TIMIKA, timikaexpress.id – Siang itu, di koridor Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP) Mimika, suara anak-anak terdengar saling menyahut dalam bahasa yang bukan bahasa ibu mereka.
“Good afternoon, teacher…”
Lafal itu begitu kuat, dan sorot mata mereka memantulkan keyakinan saat berpapasan dengan Kepala SATP, Sonianto Kuddi dan para wartawan mitra YPMAK.
Tidak saja itu, dari dalam ruang kelas, terdengar suara melafalkan istilah matematika dan IPA dalam bahasa Inggris.
Di sinilah mimpi-mimpi besar anak-anak Papua mulai dirajut di SATP.
Sekolah berasrama yang dibangun oleh Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme Kamoro (YPMAK), pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia (PTFI), ini menjadi rumah kedua bagi 1.170 anak dari berbagai pelosok Papua.
Di atas lahan hampir 10 hektare, gedung-gedung akademik berdiri berdampingan dengan lapangan olahraga dan asrama, menciptakan ruang tumbuh bagi generasi masa depan.
Sebanyak 85 guru dan 95 pembina asrama setiap hari menemani mereka belajar, bukan hanya tentang angka dan kata, tetapi juga tentang disiplin, kepemimpinan, kreativitas serta membangun rasa percaya diri.
SATP kini menerapkan kelas khusus bernama ACI Class (Academic Competition in English Class) berjalan dengan suasana berbeda.
Guru-guru dari Filipina memimpin pelajaran. Bahasa pengantar sepenuhnya Inggris, bahkan saat membahas rumus matematika atau eksperimen IPA.
“Dalam ACI Class ini kami menghadirkan guru-guru dari Filipina. Semua mata pelajaran diajarkan dalam bahasa Inggris,” tutur Kepala SATP, Sonianto Kuddi, Selasa (3/1/2026).
Program ini bukan sekadar tambahan pelajaran. Ia dirancang sebagai jembatan menuju standar pendidikan internasional, mempersiapkan anak-anak Papua untuk berani melangkah ke dunia yang lebih luas.
Keseriusan itu tak berhenti di ruang kelas.
Pihak yayasan kini tengah mematangkan kerja sama dengan penyedia kurikulum internasional yang direncanakan diluncurkan pada Juli mendatang.
“Kami belum bisa menyampaikan detailnya sekarang. Tapi akan ada program baru dengan kurikulum internasional,” ujar Sonianto.
Sementara itu, di luar ACI Class, suasana belajar berbahasa Inggris juga meresap dalam keseharian.
Program English Environment membuat bahasa asing tak lagi terasa kaku.
Guru-guru lokal menyelipkannya dalam berbagai mata pelajaran, dari salam pembuka hingga diskusi ringan.
“Setidaknya dalam penyampaian materi selalu ada unsur bahasa Inggris supaya anak-anak terbiasa dan percaya diri,” kata Elpianus Paat, Wakil Kepala Sekolah SMP SATP.
Di asrama, pembiasaan itu berlanjut lewat program daily English in life.
Menjelang malam, anak-anak berkumpul menonton video pendek, mendengarkan cerita, atau berbagi pengalaman dalam bahasa Inggris sederhana.
“Mulai dari yang ringan dulu. Story time, percakapan harian, sampai akhirnya mereka berani berbicara lebih panjang. Ini bagian dari langkah menuju kurikulum internasional,” jelas Elpianus.
Bagi para penggagas SATP, pelajaran bahasa hanyalah pintu pembuka.
Yang lebih penting adalah membentuk keberanian bermimpi, bahwa anak-anak dari pedalaman Papua pun pantas menatap dunia tanpa rasa rendah diri.
SATP yang semula Penjunan didirikan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Amungme Kamoro serta Papua lainnya, termasuk membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari wilayah terpencil, dan didukung pemerintah daerah bersama mitra pendidikan, Yayasan Lokon.
Di ruang-ruang kelas itu, di antara tawa dan kosa kata yang terus dihafal, perlahan-lahan tumbuh generasi baru Papua yang tak lagi ragu menyebut mimpi mereka dalam bahasa dunia. (maurits sadipun)
Jumlah Pengunjung: 43

17 hours ago
8

















































