Ekonomi Terpuruk, Sekolah Terhenti Hingga Balita Meninggal: Pengungsi Kapiraya Minta Pemerintah Percepat Bantuan

11 hours ago 6
PENGUNGSI – Warga pengungsi mendiami camp- camp darurat di daerah Logpon, Kapiraya. (FOTO:ISTIMEWA)

TIMIKA, timikaexpress.id — Kondisi ekonomi warga di wilayah Kapiraya dan sekitarnya kian memprihatinkan pascakonflik yang terjadi sejak 24 November 2025.

Aktivitas masyarakat nyaris terhenti, sementara bantuan pemerintah dinilai belum menjangkau secara maksimal kebutuhan dasar warga pengungsi.

Ketua Aliansi Pemuda Kampung Kapiraya, Alphius Minama, kepada Timika eXpress, Kamis (5/2/2026), mengatakan masyarakat saat ini hidup dalam keterbatasan, terutama untuk memenuhi kebutuhan pangan, pendidikan, dan kesehatan.

“Masalah ekonomi sekarang sangat sulit. Aktivitas masyarakat untuk mencari nafkah, pendidikan, sampai pelayanan kesehatan semuanya terdampak. Kami minta perhatian serius dari pemerintah,” ujarnya.

Menurut Alphius, bantuan pemerintah terakhir kali diterima pada akhir tahun lalu, tepatnya pasca konflik akhir November hingga Desember 2025, saat konflik masih berlangsung.

“Kalau tidak salah distribusi itu di bulan November, dan Desember. Setelah itu sampai sekarang belum ada lagi bantuan dari pemerintah,” katanya.

Akibat situasi keamanan yang belum sepenuhnya pulih, sebagian warga terpaksa mengungsi ke wilayah Logpon yang berjarak sekitar 4 kilometer dari kampung asal mereka.

Pelayanan kesehatan pun disebut sangat terbatas.

“Sejak konflik terjadi, pelayanan kesehatan cuma dua kali. Januari kemarin tidak ada sama sekali, bahkan sampai bulan ini belum ada,” ungkap Alphius.

Ia juga mengungkapkan adanya 2 orang dewasa serta 2 anak balita akhirnya meninggal dunia di camp pengungsian Kampung Kapiraya.

“Di Kapiraya kemarin ada dua anak umur sekitar tiga sampai empat tahun, dan dua orang dewasa meninggal,” katanya.

Adapun penyebab pasti kematian dua balita karena diare, sementara penyebab kematian dua orang dewasa masih perlu dikonfirmasi secara medis.

Selain itu, kondisi sekolah di wilayah terdampak konflik juga belum sepenuhnya pulih.

Aktivitas belajar mengajar terhenti di beberapa kampung, meski di wilayah tertentu masih berjalan secara terbatas.

“Untuk sekolah di Kapiraya dan sekitarnya belum berjalan. Kalau di Wumuka masih berjalan,” jelasnya.

Di tengah keterbatasan tersebut, sebagian warga hanya bisa bertahan melalui proyek padat karya pembangunan jalan yang melibatkan masyarakat setempat.

“Kami bertahan dari pekerjaan proyek jalan itu. Kalau bantuan pemerintah untuk kebutuhan masyarakat belum ada lagi,” katanya.

Alphius berharap pemerintah daerah dan pihak terkait segera turun tangan memberikan perhatian lebih serius, terutama dalam pemenuhan kebutuhan dasar warga pengungsi.

“Kami berharap ada respons dari pemerintah. Warga butuh bantuan ekonomi, layanan kesehatan rutin, dan jaminan agar anak-anak bisa kembali sekolah,” tegasnya.

Ia juga menyinggung adanya informasi terkait rencana penerbangan pesawat ke wilayah tertentu di sekitar Kapiraya, meski pihaknya belum memiliki bukti kuat.

“Soal isu penerbangan itu kami masih pertanyakan ke pihak berwenang, tapi memang belum ada bukti yang kuat,” ujarnya. (vis)

Jumlah Pengunjung: 82

Read Entire Article
Sumut Bermartabat| Timika Hot | | |