SATP, Rumah Kedua Anak-anak Papua Menggapai Masa Depan

5 hours ago 5
Aktivitas siswa-siswi SATP saat jam istirahat pada Selasa (3/2/2026). (FOTO:HARRY/TIMEX)

TIMIKA, timikaexpress.id – Ketika sebagian besar masyarakat kota Timika masih terlelap, derap langkah kecil terdengar di lorong-lorong asrama Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP).

Tepat Pukul 04.00 WIT setiap hari, anak-anak bangun membereskan tempat tidur, menjalani piket, lalu beribadah sebelum bersiap menuju kelas.

Ritual pagi itu menjadi awal perjalanan mereka di tempat yang kini disebut sebagai rumah kedua.

Di balik tembok sekolah berasrama ini tersimpan kisah keberanian meninggalkan orang tua, tangis di bulan-bulan pertama, serta mimpi-mimpi besar yang perlahan tumbuh di tanah Amungsa—bumi Kamoro, Papua.

SATP yang dikelola Yayasan Lokon kini menaungi 1.170 siswa: 773 murid SD dan 397 pelajar SMP.

Mereka dibina oleh 83 tenaga pendidik dan staf, termasuk tujuh tenaga tata usaha. Berdiri di atas lahan seluas 9,8 hektare, sekolah ini berada di bawah Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK), pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia (PTFI).

Air Mata di Hari-hari Awal

Berpisah dari orang tua bukan perkara mudah, apalagi bagi anak-anak usia sekolah dasar.

“Butuh upaya besar untuk memisahkan anak dengan orang tua. Ada rayuan, ada tangisan, bahkan pendampingan khusus dari psikolog SATP supaya anak-anak bisa betah dan bertahan demi menggapai mimpi mereka,” ungkap Kepala SATP, Sonianto Kuddi, Selasa (3/2/2026).

Sekitar 30 persen siswa kelas satu sempat menolak tinggal di asrama. Tarik ulur pun kerap terjadi. Sekolah, YPMAK, dan orang tua harus membangun kepercayaan sejak awal.

“Makanya anak-anak pertama kali kami terima di MPCC untuk menghindari tarik ulur sebelum dibawa langsung ke asrama,” kata Soni, sapaan akrabnya.

Kini, situasi pelik itu mulai menunjukkan perubahan positif, anak-anak mulai betah dan bertahan sejak tahun lalu.

Di rumah kedua bernama SATP, anak-anak bukan hanya diajak mengejar nilai, tetapi juga dilatih disiplin, kepemimpinan, kreativitas, serta kepercayaan diri.

Orang tua hanya diizinkan menjenguk dalam kondisi tertentu. Namun pertemuan singkat itu sering memantik rindu.

“Pernah ada siswa SMP mencoba melompati pagar setinggi empat meter demi keluar. Sejak itu kami ambil kebijakan tegas demi keselamatan bersama,” ujarnya.

Wilanti Dolame: Dari Tangis ke Tekad

Wilanti Dolame, putri Suku Amungme asal Tembagapura, menyimpan kisah masuk SATP yang menggetarkan.

Sejak kecil ia hidup bersama ibunya setelah ditinggal sang ayah. Karena ibunya bekerja di lingkungan SATP, Wilanti sudah mengenal sekolah itu sejak dini.

“Waktu mama bawa saya, saya lihat anak-anak di sini hidupnya enak, bisa sekolah dengan baik. Dari situ saya ingin masuk,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Pesan sang ibu sederhana, namun penuh harapan.

“Mama bilang belajar sungguh-sungguh dan jangan bikin masalah,” kenangnya.

Bulan pertama di asrama penuh gejolak batin.

“Kadang masih menangis, karena ingat mama yang sekaligus jadi bapak buat saya. Tapi saya kuat karena Tuhan menyertai,” ucapnya lirih.

Keteguhan itu membawanya mengikuti Program Bina Talenta Indonesia (BTI) Tahap II Bidang Koding dan Kecerdasan Artifisial yang digelar Pusat Prestasi Nasional bersama Institut Teknologi Del di Medan.

Wilanti meraih sertifikat dan penghargaan sebagai peserta kamar putri terbaik.

“Yang bikin saya bangga, pertama kali naik pesawat—Timika, Makassar, Jakarta sampai Medan. Rasanya seperti mimpi,” katanya tersenyum.

Ia menyimpan tekad melanjutkan SMA di Lokon Santo Nikolaus Tomohon, lalu kuliah di Universitas Gadjah Mada.

“Cita-cita saya mau jadi dokter supaya bisa bantu masyarakat Suku Amungme di kampung yang masih terbatas akses kesehatannya,” ujarnya mantap.

Yoram Kum dan Mimpi yang Terbang Tinggi

Yoram Kum Uamang, siswa asal Beoga, menjadi gambaran lain bagaimana SATP membentuk karakter.

Masuk sejak kelas 1 SD, kini ia duduk di kelas VIII SMP. Ketertarikannya bermula dari cerita teman hingga melihat langsung lingkungan SATP.

“Saya bilang ke bapak supaya daftar, dan puji Tuhan diterima,” tuturnya.

Hari-hari awal terasa berat. Namun perlahan ia terbiasa bangun subuh, ibadah, dan belajar teratur.

Agustus 2025, Yoram bersama tiga siswa SATP lainnya terbang ke Tokyo mengikuti Asian International Mathematics Olympiad (AIMO) setelah menjuarai seleksi di Mimika.

Meski belum membawa pulang medali, penghargaan yang diraih menjadi kebanggaan tersendiri.

“Di luar akademik saya main basket dan bulu tangkis,” ujarnya.

Tentang bertahan di asrama, Yoram tak ragu.

“Saya di sini karena mau wujudkan mimpi jadi pilot,” katanya.

Ega Wefako: Kesempatan Emas dari SATP

Dari Kampung Jita, Distrik Jita, Ega Wefako menuturkan awal ketertarikannya masuk SATP.

“Saya lihat saudara di asrama waktu antar buah-buahan. Orang tua dukung, dan saya masuk sejak kelas satu,” katanya.

Baginya, SATP adalah pintu harapan.

“Kalau di luar, mama pasti terbebani biaya,” ujarnya.

Prestasi demi prestasi pun ia raih: OSN hingga provinsi, juara dua Olimpiade Sains tingkat kabupaten 2024, Jenius Sains Olimpiade di UGM, hingga terpilih menjadi Paskibraka HUT RI ke-78 di Kuala Kencana.

“Semua itu bikin saya yakin anak-anak Papua juga bisa bersaing,” katanya.

Kini Ega bermimpi kuliah di luar negeri dan mendalami Hubungan Internasional agar kelak menjadi diplomat.

Menjadi Rumah, Menjadi Harapan

Di tengah jarak dari keluarga, aturan ketat, dan rindu yang menggelayut, SATP terus menjalankan perannya sebagai rumah kedua.

Dari Tembagapura, Beoga, hingga Jita, anak-anak ini tumbuh bersama disiplin, doa, serta keyakinan bahwa mereka berhak bermimpi setinggi langit.

SATP bukan sekadar tempat belajar—melainkan ruang anak-anak Papua ditempa untuk berdiri tegak, saling menguatkan, dan menatap masa depan dengan penuh harapan. (maurits sadipun)

Jumlah Pengunjung: 28

Read Entire Article
Sumut Bermartabat| Timika Hot | | |