Rekonsiliasi Suci di Tanah Amungme, Menutup Luka Sejarah

2 months ago 75

MISA – Uskup Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, saat memimpin misa rekonsiliasi di Gereja Paroki Agimuga (FOTO: ISTIMEWA/TIMEX)

TIMIKAEXPRESS.id – PAGI belum sepenuhnya terangkat di Agimuga ketika bunyi tifa mulai memecah kesunyian.

Kabut tipis menggantung di antara perbukitan, seolah enggan pergi menyaksikan hari yang bagi masyarakat Suku Amungme bukan hari biasa.

Senin, 1 Desember 2025, menjadi saksi bagaimana luka lama, pelan-pelan, diajak berdamai melalui doa.

Ribuan umat Katolik dari Suku Amungme berdatangan sejak subuh. Mereka mengenakan busana adat: koteka, rok rumbai, mahkota bulu cenderawasih, dan noken yang melintang di dada.

Di antara mereka hadir Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong, bersama sang istri, Ny. Periana Kemong, Ketua MRP Papua Tengah, Agustinus Anggaibak dan ribuan warga dari beragam marga Suku Amungme.

Tidak ada jarak kekuasaan saat itu. Semua larut dalam satu ruang suci: ruang pengakuan, kejujuran, dan harapan.

Kedatangan Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, disambut dengan tarian tradisional dan tangis haru.

Pada lehernya disematkan noken dan bunga, di kepalanya diletakkan mahkota cenderawasih.

Bagi masyarakat Amungme, itu bukan sekadar simbol penyambutan, melainkan peneguhan bahwa seorang gembala telah tiba untuk mendengar jeritan masa lalu dan memimpin langkah menuju pengampunan.

Ibadah rekonsiliasi yang digelar di Gereja Paroki Agimuga itu bukan seremoni biasa.

Ia adalah ruang spiritual tempat dosa, dendam, luka, serta kesalahan para leluhur, baik yang disadari maupun tidak dipersembahkan kepada Tuhan.

Dalam khotbahnya, Uskup Bernardus tidak berbicara tentang politik, kekuasaan, atau jabatan.
Ia berbicara tentang hati.

“Melalui rekonsiliasi ini, kita membuka lembaran baru dan membangun jembatan yang putus menjadi jembatan hati, jembatan jiwa, jembatan pikiran, dan jembatan perasaan. Dari situlah lahir iman, harapan, dan kasih untuk masa depan yang lebih baik,” tuturnya.

Di antara umat, tampak beberapa keluarga berdiri.

Mereka berasal dari marga Kilangin, Kemong, Kuum, dan sejumlah marga lain.

Dengan suara bergetar, mereka memohon pengampunan.

Ada air mata yang jatuh, ada tangan yang saling menggenggam, dan ada pelukan yang akhirnya kembali menemukan maknanya.

Usai ibadah, rombongan berjalan menuju Pelabuhan Kiliarma.

Di sanalah sebuah salib ditegakkan, menghadap air yang perlahan mengalir ke laut luas.

Salib itu tidak hanya menjadi tanda iman, tetapi juga penanda sejarah: bahwa di tempat ini, sebuah suku memilih berdamai dengan masa lalunya.

Proses menuju hari itu bukan pekerjaan singkat.

Sejak 10 Oktober 2025, panitia rekonsiliasi bekerja dalam senyap dan doa.

Mereka mengadakan rapat perdana di Hotel Serayu, Timika, membentuk tim kerja, menyusun rencana penggalangan dana, dan membagi tugas agar acara ini dapat terwujud.

Bahan makanan dikirim dari Timika ke Agimuga pada 24 November 2025.

Tidak sedikit tantangan dalam proses distribusi, namun semangat persaudaraan membuat semuanya terasa ringan.

Pada 30 November, para tamu dan tim Keuskupan dimobilisasi.

Napak tilas 72 Tahun Misi Katolik digelar pada 1 Desember, disusul napak tilas perjalanan pemerintahan sehari setelahnya.

Puncak rekonsiliasi berlangsung 3 Desember, lalu syukuran dan bakar batu pada 4 Desember menjadi tanda kegembiraan kolektif.

Tawa anak-anak, nyanyian para orang tua, dan aroma batu panas bercampur daun serta umbi-umbian memenuhi udara Agimuga — sebuah pesta kecil setelah penyesalan besar.

Mayoritas umat Paroki Agimuga adalah orang Amungme.

Namun di antara mereka juga hadir warga Suku Mimika Wee (Kamoro), para guru, dan tenaga medis dari berbagai latar belakang.

Semua larut dalam satu tarikan napas: bahwa perdamaian tak mengenal suku, marga, maupun jabatan.

Hari itu, di sebuah distrik kecil di Tanah Papua, rekonsiliasi bukan hanya kata dalam kitab suci.

Ia hidup. Ia menangis. Ia memeluk. Dan ia, perlahan tetapi pasti, menyembuhkan.

Agimuga telah memilih untuk tidak lagi mewariskan luka, melainkan doa dan harapan.

Jumlah Pengunjung: 14

Read Entire Article
Sumut Bermartabat| Timika Hot | | |