Kerusuhan Pecah Pasca Perdamaian, Bupati Mimika Dievakuasi ke Barakuda

3 weeks ago 57
AMANKAN – Bupati Mimika Johannes Rettob diamankan oleh ajudan dan beberapa anggota Brimob saat kericuhan terjadi selepas prosesi perdamaian di Kwamki Narama, Senin, 12 Januari 2025. (Tangkapan Layar)

TIMIKA, timikaexpress.id – Hanya 20 menit  setelah prosesi perdamaian konflik Kwamki Narama, situasi di lokasi digelarnya ritual damai tersebut kembali memanas.

Kericuhan terjadi saat sejumlah tahanan digiring menuju mobil kepolisian, Senin (12/1/2026).

Sejumlah warga yang hadir menolak penahanan tersebut dan mendesak agar para tahanan dibebaskan dengan alasan kesepakatan perdamaian telah dicapai.

Namun aparat keamanan tetap membawa para tahanan karena perbuatan mereka dinilai memenuhi unsur pidana, antara lain penyerangan terhadap aparat, perusakan kendaraan, serta aksi pemanahan terhadap anggota Brimob.

Ketegangan memuncak ketika seorang oknum warga melempari aparat keamanan dan sejumlah pejabat yang berada di lokasi prosesi damai di Kwamki Narama.

Aparat kemudian melepaskan tembakan peringatan ke udara untuk membubarkan massa.

Kericuhan pun tak terhindarkan.

Meja dan kursi berhamburan, sementara aparat melakukan pengejaran terhadap oknum yang diduga memprovokasi situasi.

Bupati Mimika Johannes Rettob dikawal ketat oleh ajudan dan aparat keamanan, kemudian diamankan ke dalam mobil barakuda guna menghindari potensi bahaya.

Hingga saat ini, aparat keamanan masih bersiaga penuh dan melakukan patroli untuk mencegah meluasnya konflik susulan.

Prosesi Perdamaian

Konflik antar dua kelompok warga di Distrik Kwamki Narama yang berlangsung selama tiga bulan akhirnya berakhir damai melalui prosesi adat patah panah dan tukar babi, Senin (12/1/2026).

Prosesi perdamaian antara kelompok Dang dan Newegalen digelar di Jalan Maleo, Kampung Amole, Distrik Kwamki Narama, Mimika–Papua Tengah, sebagai simbol berakhirnya pertikaian dan pemulihan hubungan persaudaraan.

Kesepakatan damai ditandai dengan patah panah sebagai simbol penghentian perang, serta tukar babi yang melambangkan rekonsiliasi kedua belah pihak.

Selain itu, dilakukan penandatanganan kesepakatan damai oleh perwakilan kedua kelompok, disaksikan Pemerintah Kabupaten Mimika dan Pemerintah Kabupaten Puncak.

Prosesi tersebut dipimpin langsung oleh Bupati Mimika Johannes Rettob dan Wakil Bupati Emanuel Kemong, didampingi Wakil Bupati Puncak Naftali Akawal serta Pj Sekda Kabupaten Puncak Nenu Tabuni.

Bupati Mimika: Hidup Damai Sebagai Keluarga

Usai prosesi adat, Bupati Mimika Johannes Rettob menegaskan bahwa kesepakatan tersebut harus menjadi komitmen bersama untuk mengakhiri segala bentuk kekerasan.

“Ini menjadi contoh bagi kita semua untuk hidup damai sebagai satu keluarga. Tidak boleh ada perang lagi, baik di Mimika maupun di Tanah Papua,” ujarnya.

Penegasan serupa disampaikan Pj Sekda Kabupaten Puncak Nenu Tabuni, yang menyatakan bahwa kesepakatan damai bersifat final dan mengikat seluruh pihak.

“Kesepakatan sudah ditandatangani. Tidak boleh ada perang lagi, tidak ada perbedaan lebih atau kurang. Semua telah disepakati di hadapan pemerintah, aparat, dan masyarakat,” tegasnya.

Meski sempat diwarnai interupsi warga yang meminta penandatanganan dilakukan langsung oleh pihak yang bertikai tanpa perwakilan.

Seluruh rangkaian prosesi perdamaian berlangsung tertib dan kondusif.

Kesepakatan ini menandai berakhirnya konflik antar kelompok Dang dan Newegalen, sekaligus menjadi langkah awal membangun kembali kehidupan yang aman, damai, dan harmonis di Distrik Kwamki Narama. (via)

Jumlah Pengunjung: 192

Read Entire Article
Sumut Bermartabat| Timika Hot | | |