Oleh: Gabriel Zezo, Ketua Flobamora Mimika
TIMIKA,timikaexpress.id – Di tanah perantauan Timika, ribuan masyarakat asal Nusa Tenggara Timur hidup, bekerja, dan berjuang di tengah kerasnya kehidupan tambang.
Mereka hadir dengan identitas yang kuat, pekerja keras, sederhana, setia, dan penuh solidaritas.
Namun di balik semangat itu, terselip rasa sepi yang perlahan menyelinap: rasa dilupakan oleh tanah asal yang melahirkan mereka.
Sebagai perantau, masyarakat NTT di Timika tetap membawa bahasa, budaya, dan semangat kebersamaan Flobamora.
Mereka mendirikan organisasi, menjaga tradisi, bahkan menjadi jembatan sosial antar-suku di tanah Papua.
Mereka adalah wajah NTT di luar daerah, wajah yang memperlihatkan bahwa anak-anak Flobamora mampu beradaptasi, bekerja keras, dan berkontribusi di mana pun berada.
Namun di tengah semua itu, muncul kekecewaan yang sulit disembunyikan.
Ketika Gubernur NTT berkunjung ke Timika, Papua Tengah, tak ada sapa, tak ada kunjungan, tak ada salam yang menandakan bahwa beliau masih mengingat anak-anak daerahnya yang hidup di tanah rantau.
Sebuah sikap diam yang mungkin dianggap sepele, namun bagi masyarakat perantau, terasa seperti pengabaian yang dalam.
Sikap seorang pemimpin mencerminkan empati.
Pemimpin bukan hanya pengatur administrasi dan kebijakan, tetapi juga simbol kasih, pengakuan, dan perhatian bagi rakyatnya di mana pun mereka berada.
“Tidak menyapa masyarakat perantau bukan sekadar abai dalam etika komunikasi, melainkan pengingkaran halus terhadap tanggung jawab moral dan sosial seorang pemimpin terhadap komunitas asalnya”.
Dalam kacamata sosial-budaya, perantau NTT adalah diaspora moral daerah.
Mereka bukan sekadar warga yang meninggalkan kampung halaman, tetapi duta kecil yang membawa nama baik NTT ke luar wilayah.
Karena itu, perhatian kepada mereka bukan hanya bentuk penghormatan, tetapi juga bagian dari membangun jembatan identitas dan kebanggaan daerah.
Yang dibutuhkan bukan hanya sapa dalam kata, tetapi juga kunjungan simbolik yang menguatkan rasa memiliki.
Pemimpin yang hadir di hadapan warganya di perantauan tidak sekadar memenuhi agenda seremonial, tetapi menanamkan pesan bahwa “kamu tetap bagian dari kami, dari tanah dan darah yang sama.”
Kita berharap, ke depan siapa pun pemimpin NTT, tidak menutup mata terhadap keberadaan warganya di tanah-tanah jauh — seperti Timika, Sorong, Merauke, Jayapura, atau daerah lain di seluruh Nusantara.
Karena dari sanalah, dari peluh dan kerja keras anak-anak Flobamora di rantau, nama besar NTT juga ikut ditopang.
“Perhatian kecil bisa menjadi makna besar.
Satu sapaan pemimpin dapat menghapus jarak batin yang selama ini terasa jauh.
Dan ketika seorang pemimpin memilih untuk menyapa, ia sesungguhnya sedang meneguhkan kembali jati dirinya sebagai pelayan rakyat — bukan sekadar penguasa pemerintahan” . (*/)
Jumlah Pengunjung: 20

2 weeks ago
36

















































