KETERANGAN – Wakil Kepala Suku Aru, Kabupaten Mimika, Hariyanto Laelaen, mendampingi Surip Dorci Residey, memberikan keterangan kepada awak media di kamar jenazah RSUD Mimika, Selasa (2/12/2025)
TIMIKA, timikaexpress.id – KEMATIAN kerap datang seperti angin yang tak pernah diundang, sunyi, tak bertanda, dan sering kali melintas pada detik-detik paling biasa.
Ia tidak memilih waktu yang dramatis, tapi justru sering menyelinap di sela rutinitas, saat seseorang tersenyum kecil sebelum berangkat, saat seorang ibu menjerang air untuk membuat teh atau kopi, ketika seorang ayah menatap jalanan ia lewati setiap hari.
Tak ada petir yang mengawali, tak ada firasat yang jelas. Yang tertinggal hanyalah jeda,sebuah ruang kosong, antara keberangkatan dan berita yang tiba-tiba mengoyak.
Di sana, waktu seolah berhenti. Kenangan kecil yang sebelumnya tampak remeh mendadak berubah menjadi harta yang paling dirindukan.
Percakapan singkat, suara pintu yang ditutup pelan, bahkan gelas air minum yang masih menyisakan embun di permukaannya.
Itulah ceritera Surip Dorci Residey di kamar jenazah RSUD Mimika, mengenang dan melepas kepergian Bonisius Gaitian, suaminya.
Kamar jenazah RSUD Mimika menjadi saksi bisu dan luka batin Surip Dorci Residey.
Di ruangan itu, tangis perempuan paruh baya tersebut pecah saat melihat jasad suaminya, Bonisius Gaitian, seorang pekerja batako yang baru dua hari mencoba peruntungan menjadi ojek.
2 Desember 2025, sekitar pukul 2 siang (14.00 WIT), dan 2 hari baru menjalani profesi ojeker, Bonisius tewas dengan kondisi mengenaskan, kepalanya dipenggal oleh Oknum Tak Dikanal (OTK), di Jalan Poros SP9, Distrik Iwaka, Selasa (2/12/2025).
Di antara sesenggukan dan air mata yang tak terbendung, Surip berusaha mengingat kembali percakapan terakhirnya dengan Bonisius.
Sekilas kenangan sederhana itu kini terasa bagai senar terakhir yang menghubungkan ia dengan suami yang dikenalnya sebagai sosok pekerja keras.
Surip bercerita bahwa Bonisius sejatinya bukan tukang ojek. Pekerjaan tetapnya adalah membuat batako, profesi yang selama ini menjadi tumpuan hidup keluarga kecil mereka.
“Bapak sebenarnya bekerja sebagai pembuat batako,” ucap Surip lirih.
Namun dua hari terakhir, Bonisius mencoba mengambil pekerjaan tambahan sebagai ojek, berharap mendapat sedikit uang lebih mencukupi kebutuhan keluarga.
Pagi yang Biasa, Pulang yang Tak Pernah Terjadi
Tragedi itu bermula ketika Bonisius pamit keluar rumah sejak pagi.
Siang harinya, ia sempat pulang sebentar, mengantar seorang penumpang yang menurut Surip misterius, dan terlihat mencurigakan.
Surip ingat akan momen pertanda perpisahannya dengan Bonisius.
Yakni, penumpang yang hendak diantar ke SP 7 itu membawa sebilah parang.
“Waktu itu saya sempat Tanya, apakah orang itu sudah bayar ongkos, terus suami saya bilang belum,” tuturnya dengan suara bergetar.
Bonisius kemudian berpamitan untuk mengisi bensin sebelum kembali menjemput penumpang tersebut.
Ongkosnya Rp30.000, jumlah kecil yang ia kejar demi keluarga, justru menjadi jalan tragis menuju kematiannya.
“Sebelum berangkat, saya sempat kasih air minum untuk bapak ,” kata Surip.
Ucapannya itu menggantung, seakan air minum biasa itu adalah pemberian terakhir seorang istri kepada suami, sekaligus melepas kepergiannya untuk selamanya.
Bonisius kemudian bergegas pergi membawa penumpangnya, meninggalkan rumah tempat mereka menumpang di SP5, milik bos batako tempat ia bekerja.
Foto di Grup WA Keluarga Menjadi Penanda Duka
Tak lama setelah suaminya pergi, Ponsel Surip berdering. Sang bos batako mengabarkan bahwa Bonisius mengalami kecelakaan. Surip masih mengira itu musibah biasa.
Namun pesan berikutnya mengubah segalanya. Foto yang dikirim ke grup whatsapp keluarga mereka memperlihatkan kenyataan yang tak pernah ia bayangkan.
“Anak perempuan buka foto itu, lalu katakan, ‘Mama, ini bapak’,” kenang Surip sambil menyeka air matanya.
Suaminya bukan jatuh dari motor, melainkan dibunuh secara keji.
Bonisius meninggalkan tiga orang anak. Anak sulungnya sudah menikah, sedangkan dua lainnya masih di bangku sekolah, yaitu satu di kelas 2 SMA, dan anak bungsunya masih kelas 2 SD.
Kini mereka harus tumbuh tanpa kehadiran dan nafkah serta kasih sayang seorang ayah.
“Sekarang tinggal saya sendiri,” ucap Surip lirih, memandangi jazad suaminya yang terbujur kaku.
Di kamar jenazah, Wakil Kepala Suku Aru, Kabupaten Mimika, Hariyanto Laelaen, mendesak kepolisian segera mengusut tuntas kasus yang menimpa warganya ini.
Ia berharap pelaku segera ditangkap agar keluarga tidak menanggung duka tanpa keadilan.
Kematian yang tak terduga itu mengajar manusia tentang rapuhnya kehidupan, bahwa hari yang tampak biasa bisa menjadi halaman terakhir tanpa penanda.
Bahwa seseorang bisa tersenyum sambil berkata “nanti saya pulang,” tanpa mengetahui bahwa kata itu adalah janji yang tak sempat ditepati.
Dan bagi mereka yang ditinggalkan, yang tersisa adalah upaya perlahan untuk menerima, bahwa hidup akan terus berjalan meski ada satu kursi kosong yang tak akan terisi lagi.
Bahwa cinta, meski kehilangan tubuh, tetap tinggal di ingatan, menjadi cahaya kecil yang terus menyala di tengah gelap yang tiba-tiba datang. (*)
Penulis: Gren Telaubun
Editor : Maurits Sadipun
Jumlah Pengunjung: 62

2 months ago
63

















































