Gerry Okoare: Tidak Ada Musdat 2025
FOTO BERSAMA – Ketua Lemasko Gregorius Okoare dan Wakil Ketua I Marianus Maknapeku berpose bersama pengurus Lemasko usai konferensi pers di Jalan Ahmad Yani, Timika, Sabtu (9/8) (FOTO: GREN/TIMEX)
TIMIKAEXPRESS.id – Lembaga Musyawarah Adat Suku Kamoro (Lemasko) menyayangkan sikap sejumlah oknum Organisasi Masyarakat (Ormas) yang menyuarakan penolakan terhadap kehadiran Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Kabupaten Mimika.
Pernyataan itu disampaikan saat peringatan Hari Masyarakat Adat Sedunia 2025 di Jalan Cendrawasih, Timika, Sabtu (9/8).
Wakil Ketua I Lemasko, Marianus Maknapeku, mengatakan penolakan tersebut keliru dan bertentangan dengan aturan negara.
“Mimika adalah bagian dari NKRI, sehingga TNI berkewajiban menjaga kedaulatan. Tidak boleh membawa nama Lemasko untuk menolak TNI,” tegasnya saat konferensi pers di Jalan Ahmad Yani, Sabtu (9/8).
Menurut Marianus, momen Hari Masyarakat Adat Sedunia seharusnya diisi dengan diskusi terkait kesenjangan dan aspirasi masyarakat adat, khususnya Suku Amungme dan Kamoro, seperti kuota CPNS, keterwakilan di DPR, tapal batas, pemekaran DOB, penyerobotan tanah adat, dan pemenuhan hak-hak dasar.
“Jangan mencederai momen ini dengan aksi yang memicu keributan,” ujarnya.
Marianus juga menepis klaim adanya Musyawarah Adat (Musdat) Lemasko pada September 2025.
Menurutnya, Lemasko yang sah baru akan menggelar Musdat pada 2027.
“Lemasko hanya satu, tidak ada Lemasko 2 atau 3,” tegasnya.
Selanjutnya, Ketua Lemasko, Gregorius Okoare, menambahkan bahwa pernyataan penolakan TNI tidak mencerminkan kepentingan masyarakat adat.
Ia menilai peringatan seharusnya dimanfaatkan untuk membahas hal-hal bermanfaat bagi keberlangsungan masyarakat adat.
“Kami kecewa dan sayangkan sikap oknum ormas yang mengaku Lemasko,” ujarnya.
Gregorius mengingatkan masyarakat Kamoro agar tidak terprovokasi oleh pihak yang mencatut nama Lemasko tanpa dasar hukum.
Ia juga meminta lembaga lain tidak mengintervensi Lemasa dan Lemasko karena keduanya memiliki tata kelola sendiri.
Tokoh pemuda Kamoro, Konradus Okarnapoka, dan tokoh intelektual, Yohanis Mamiri, turut menolak rencana Musdat Lemasko tahun ini yang dinilai ilegal.
Mereka menegaskan bahwa momen Hari Masyarakat Adat Sedunia seharusnya menjadi forum memperjuangkan hak-hak masyarakat adat, bukan kepentingan segelintir orang. (via)
Jumlah Pengunjung: 9