MIMIKA, timikaexpress.id – Di antara sungai-sungai yang tenang, hutan sagu yang luas, dan muara yang menghubungkan laut dengan daratan, lahirlah anak-anak Kamoro yang dibesarkan oleh alam dan adat.
Mereka hidup bersama rawa, hutan, ikan, dan sagu, menjaga tanah leluhur yang diwariskan turun-temurun sebagai titipan suci dari Tuhan dan para leluhur.
Bagi masyarakat Kamoro, tanah bukan sekadar tempat berpijak.
Tanah adalah identitas, kehidupan, dan penghubung antara manusia dengan sejarahnya.
Dari pesisir Mimika inilah leluhur berjalan menyusuri sungai dan rawa, menjaga keseimbangan hidup dengan alam.
Namun zaman terus berubah.
Mimika berkembang menjadi daerah tambang, pusat ekonomi, dan wilayah yang dipenuhi arus pendatang dari berbagai penjuru Nusantara.
Kota tumbuh cepat, jalan terbuka, gedung berdiri, sementara tanah adat perlahan berubah wajah.
Di tengah perubahan besar itu, lahir harapan baru dari anak-anak negeri sendiri.
Harapan agar orang Kamoro dan Amungme tidak hanya menjadi penonton di atas tanahnya, tetapi ikut menentukan arah masa depan daerahnya.
Hari ini, nama Abraham Kateyau menjadi salah satu simbol harapan itu.
Dari kehidupan sederhana di pesisir Papua, ia menempuh perjalanan panjang hingga meraih gelar doktor hukum.
Gelar tersebut bukan hanya kebanggaan pribadi, melainkan penanda bahwa anak-anak Kamoro mampu berdiri sejajar dalam pendidikan, birokrasi, dan kepemimpinan.
Ketika Abraham dipercaya menjabat sebagai Penjabat Sekretaris Daerah Mimika, banyak masyarakat melihatnya sebagai kemajuan besar bagi putra asli Papua.
Jabatan itu bukan sekadar posisi birokrasi, tetapi simbol pengakuan terhadap kemampuan anak negeri yang lahir dari perjuangan panjang.
Kehadirannya memberi pesan kepada generasi muda Kamoro bahwa mereka juga mampu berada di ruang-ruang penting tempat keputusan tentang tanah, rakyat, dan masa depan Mimika ditentukan.
Di sisi lain, kepercayaan para tetua adat Kamoro kepada Johannes Rettob untuk memimpin Mimika juga menjadi simbol bahwa masyarakat adat mulai diberi ruang lebih besar dalam menentukan arah pembangunan daerahnya sendiri.
Dari titik itulah harapan tumbuh, agar semakin banyak anak pesisir memperoleh pendidikan tinggi, mendapat kesempatan, lalu kembali membangun tanah kelahirannya.
Perjalanan Abraham Kateyau adalah kisah tentang anak sungai yang berjalan menuju samudera besar.
Ia lahir dari budaya pesisir, dibentuk oleh kesederhanaan hidup masyarakat adat, lalu memilih pendidikan sebagai jalan pengabdian.
Karena Mimika sejatinya bukan hanya tentang emas di gunung atau gedung-gedung yang terus berdiri.
Mimika adalah tentang manusia-manusia yang sejak dahulu menjaga rawa, sungai, gunung, dan hutan dengan kehidupannya sendiri.
Dan ketika putra-putra terbaik negeri ini mulai bangkit melalui pendidikan dan kepemimpinan, sesungguhnya Mimika sedang menyiapkan masa depan yang lahir dari rahim tanahnya sendiri. (Penulis : Gabriel Zezo – Ketua IKF Mimika)
Jumlah Pengunjung: 61

22 hours ago
15

















































