FOTO KELUARGA – Abraham Kateyau didampingi istri dan buah hati mereka saat sesi foto keluarga. (FOTO:ISTIMEWA)
MIMIKA, timikaexpress.id – Di sebuah aula megah di Jakarta International Convention Center, tepuk tangan bergema mengiringi satu per satu nama lulusan yang dipanggil ke atas panggung.
Di antara ribuan peserta, berdiri seorang anak kampung dari pesisir Mimika. Namanya Abraham Kateyau.
Pada Selasa, 5 Mei 2026, dalam Sidang Terbuka Universitas Trisakti Semester Gasal Tahun Akademik 2025/2026, ia resmi menyandang gelar doktor hukum.
Sebuah capaian besar, yang tidak lahir dalam sekejap, tetapi melalui perjalanan panjang yang penuh perjuangan.
Dari Rp14 Ribu dan Sebuah Tekad
Perjalanan itu dimulai dari titik yang sederhana.
Ada masa ketika yang tersisa di saku Abraham hanyalah Rp14 ribu.
Namun di balik keterbatasan itu, ia menyimpan tekad yang tidak pernah padam.
Ia tidak melompat. Ia berjalan.
Kariernya dimulai sebagai Kepala Distrik Mimika Timur Jauh pada 2013.
Tahun demi tahun ia jalani dengan sabar, meniti proses yang tak selalu mudah.
Delapan tahun ia mengabdi di Bagian Organisasi dan Tatalaksana (Ortal), sebelum dipercaya memimpin berbagai dinas strategis, dari Kominfo, PTSP, hingga Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung.
Hingga akhirnya, pada 15 Agustus 2025, ia dilantik sebagai Penjabat Sekretaris Daerah Mimika oleh Bupati Johannes Rettob bersama Wakil Bupati Emanuel Kemong.
Namun bagi Abraham, jabatan bukanlah tujuan akhir.
“Ini bukan soal hebatnya seseorang, tetapi tentang bagaimana kita taat aturan dan bekerja secara profesional,” ujarnya.
Belajar Tanpa Henti
Di tengah kesibukan birokrasi, Abraham tidak pernah berhenti belajar.
Ia menempuh pendidikan Magister Hukum di Universitas Cenderawasih, sebelum melanjutkan studi doktoral di Universitas Trisakti.
Waktu terbatas, tanggung jawab besar, namun ia tetap melangkah.
Hingga pada awal 2025, ia berhasil menuntaskan pendidikan doktoralnya.
Ia pun tercatat sebagai salah satu putra Kamoro yang meraih gelar doktor, mengikuti jejak Leonardus Tumuka.
Pesan dari Pesisir
Di balik keberhasilan itu, ada peran keluarga yang tak tergantikan.
Natalia, sang istri, setia mendampingi perjalanan hidupnya.
Bersama, mereka membesarkan enam anak dalam kesederhanaan, dengan satu keyakinan: pendidikan adalah fondasi masa depan.
Abraham kerap mengingatkan generasi muda agar tidak menyia-nyiakan kesempatan.
“Sekarang sudah luar biasa. Uang saku ada, biaya pendidikan ditanggung, makan minum dijamin, ada asrama. Tinggal bagaimana kita mengatur diri,” pesannya.
Ia menilai program beasiswa, termasuk dari PT Freeport Indonesia, adalah anugerah yang harus dijawab dengan tanggung jawab.
Lebih dari Sekadar Gelar
Hari itu, ia berdiri di panggung dengan toga dan gelar doktor.
Namun yang dibawanya bukan hanya gelar.
Ada perjalanan panjang.
Ada kesabaran. Ada mimpi yang terus dijaga.
Dari pesisir Mimika, ia melangkah hingga ke panggung akademik nasional.
Ia membuktikan bahwa keterbatasan bukan akhir dari cerita.
Dan seperti yang selalu ia yakini,
usaha adalah kewajiban manusia, selebihnya adalah bagian Tuhan. (*)
Jumlah Pengunjung: 62

7 hours ago
6

















































