FOTO BERSAMA – Para pembicara foto bersama seusai diskusi dan bedah buku berjudul Thom Beanal: Pastor Awam, Kepala Suku, dan Bapa Bangsa Papua di Gedung Tempo, Palmerah Barat, Jakarta, Rabu (6/5). (dari kiri) moderator sekaligus editor buku Basilius Triharyanto; Dr Budi Hernawan; Suraya Abdulwahab Afiff, MA, Ph.D; Yorrys Raweyai; Emanuel Gobay, SH, MH; Markus Haluk; dan Inayah Wulandari Wahid. (FOTO:IST)
JAKARTA, timikaexpress.id – Sejumlah tokoh Papua, akademisi, aktivis, dan pegiat sosial menghadiri diskusi dan bedah buku Thom Beanal: Pastor Awam, Kepala Suku, dan Bapa Bangsa Papua di Gedung Tempo, Palmerah Barat, Jakarta Selatan, Rabu (6/5/2026).
Diskusi menghadirkan sejumlah pembicara dari berbagai latar belakang, di antaranya Wakil Ketua DPD RI asal Papua Tengah Yorrys Raweyai, pengajar STF Driyarkara Dr. Budi Hernawan, antropolog Universitas Indonesia Suraya Abdulwahab Afiff, aktivis HAM Emanuel Gobay, intelektual muda Papua Markus Haluk, serta Inayah Wulandari Wahid.
Acara dipandu editor buku Basilius Triharyanto.
Buku yang dibedah terdiri dari tiga seri yang mengulas perjalanan hidup dan perjuangan Thom Beanal sebagai tokoh adat Amungme, pejuang hak masyarakat adat Papua, serta figur yang konsisten menyuarakan isu kemanusiaan dan lingkungan di Tanah Papua.
Ketua Tim Penulisan Buku, Markus Haluk, mengatakan buku tersebut menjadi ruang refleksi terhadap perjalanan perjuangan Thom Beanal sekaligus situasi Papua saat ini.
“Buku ini bukan hanya mengenang sosok Thom Beanal, tetapi juga menjadi ruang membaca realitas Papua hari ini dan merumuskan harapan untuk masa depan yang lebih baik,” ujar Markus.
Ia menjelaskan, Thom Beanal dikenal sebagai salah satu tokoh Papua yang aktif memperjuangkan hak masyarakat adat, mendirikan Lemasa pada 1994, hingga menggugat PT Freeport Indonesia di Pengadilan New Orleans, Amerika Serikat, pada 1996.
Selain itu, Thom juga terlibat dalam berbagai upaya dialog damai Papua pada era reformasi dan pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Adat Papua serta Komisaris PT Freeport Indonesia.
Dalam diskusi tersebut, para pembicara turut menyoroti isu hak asasi manusia, lingkungan, hak masyarakat adat, hingga pentingnya membangun dialog damai dan bermartabat bagi Papua.
Kegiatan berlangsung hangat dan dihadiri ratusan peserta dari kalangan akademisi, mahasiswa, tokoh agama, organisasi masyarakat sipil, jurnalis, hingga masyarakat umum. (*)
Jumlah Pengunjung: 44

3 hours ago
4

















































