FOTO BERSAMA — Nunung Kusmiaty (kiri), jurnalis senior, berfoto bersama tokoh pers Papua Bill Rettob (tengah) dan istrinya di kediaman mereka di Jayapura. (FOTO: ISTIMEWA)
NABIRE, timikaexpress.id — Jurnalis senior Nunung Kusmiaty menerima Apresiasi Noken Pers Papua dari Asosiasi Wartawan Papua (AWP) pada penutupan Festival Media se-Papua Raya yang digelar di Nabire, Ibu Kota Provinsi Papua Tengah, Kamis (16/1/2026).
Nunung menyampaikan terima kasih kepada AWP dan panitia penyelenggara atas penghargaan tersebut.

Kepada timikaexpress.id, Nunung mendedikasikan apresiasi itu kepada Bill Rettob, jurnalis senior Papua yang telah berjasa besar dalam melahirkan banyak wartawan Papua.
Nunung pun mengenang awal perjalanannya di Papua.
Ia pertama kali datang ke Irian Jaya (kini Papua) pada 1990–1991 saat mengikuti Program Pertukaran Pemuda Antar Provinsi Irian Jaya–Jawa Barat.
Berbekal latar belakang sebagai penulis lepas, ia kemudian ditempatkan di Surat Kabar Tifa Irian, media yang dipimpin oleh Bill Rettob selaku Pemimpin Redaksi (Pemred) pada saat itu.
“Bill Rettob adalah tokoh pers Papua yang sangat berpengaruh,” ujar Nunung.
Menurutnya, dari tangan Bill Rettob lahir banyak jurnalis Papua, di antaranya Thonci Wolas Krenak, almarhum Lukas Degei, almarhum Pater Neles Tebay, almarhum Frans Tekege, almarhum Anton Kelanangame, Kris Ansaka, Albert Yogi, Markus You, Frans Ohoiwirin, Thobias Maturbong, serta sejumlah nama lainnya.
Selain Nunung Kusmiati, AWP juga memberikan apresiasi kepada sejumlah jurnalis lintas generasi lainnya dalam Festival Media yang ditutup oleh Staf Ahli Gubernut Papua Tengah Bidang Hukum dan Politik.
Untuk diketahui, Bill Rettob diketahui telah menekuni dunia jurnalistik sejak 1975, setelah lulus dari Sekolah Tinggi Publisistik Jakarta.
Ia kemudian dipercaya oleh Keuskupan untuk mengelola De Tifa, yang di bawah kepemimpinannya berkembang menjadi Tifa Irian.
Media ini menjadi “kawah candradimuka” bagi banyak jurnalis Papua yang kemudian dikenal luas di tingkat lokal maupun nasional.
Selain mengelola Tifa Irian hingga 1998, Bill Rettob juga pernah menjadi reporter BBC untuk wilayah Papua.
Bersama Zadrak Wamebu, ia turut mendirikan Tabloid Jubi, serta mendirikan Harian Fajar Papua di Sorong sekitar tahun 2000.
Saat berada di Sorong, Bill Rettob terserang stroke dan hingga kini telah menderita stroke selama lebih dari 20 tahun.
Dalam kesempatan yang sama, disampaikan pula bahwa upaya pendokumentasian perjalanan hidup dan karya Bill Rettob tengah dilakukan.
Sebuah film dokumenter tentang Bill Rettob sedang digarap bersama Imaji Papua.
Proses pengambilan gambar telah dimulai sejak sekitar tiga tahun lalu, dengan progres visual mencapai 50 hingga 70 persen.
Namun, produksi masih terkendala keterbatasan dukungan dan biaya, terutama untuk pengolahan audio, musik, serta pengumpulan arsip lama.
Dokumentasi sejarah pers Papua, khususnya dari era 1970-an, sebagian besar masih tersimpan secara terbatas di Sekolah Tinggi Filsafat Fajar Timur (STFT) Jayapura, sehingga menjadi tantangan tersendiri dalam penyelesaian film dokumenter tersebut.
Apresiasi Noken Pers Papua ini menjadi pengingat akan pentingnya merawat ingatan kolektif pers Papua serta menghormati para jurnalis yang telah meletakkan fondasi jurnalisme di Tanah Papua. (maurits sadipun)
Jumlah Pengunjung: 49

5 days ago
20

















































