Media Sosial Harus jadi Sarana Jurnalisme Damai, Bukan Pemantik Konflik

6 days ago 22

NABIRE, timikaexpress.id – Kepala Biro LKBN Antara Papua, Dian Kandipi, menegaskan bahwa media sosial harus dimanfaatkan sebagai sarana jurnalisme damai, bukan sebagai pemantik provokasi dan konflik di Tanah Papua.

Penegasan ini disampaikan Dian dalam Workshop ke-3 bertajuk “Dari Berita ke Viral: Strategi Media Sosial untuk Jurnalis Papua” pada rangkaian Festival Media Se-Tanah Papua, Rabu (14/1/2026).

Workshop yang dipandu Merit Waromi, wartawan sekaligus praktisi media, diikuti pelajar, mahasiswa, dan jurnalis dari berbagai daerah di Papua.

Dian mengingatkan bahwa banyak informasi dan pemberitaan konflik di Papua bermula dari media sosial yang tidak dikelola secara bijak.

Karena itu, jurnalis perlu memahami cara menyajikan konten yang tidak memicu provokasi, tetapi memberi pemahaman yang utuh kepada publik.

“Media sosial harus kita gunakan bukan sebagai pemantik provokasi, melainkan untuk menggaungkan jurnalisme damai di Papua,” ujarnya.

Menurut Dian, media memiliki peran penting untuk mengimbangi narasi konflik dengan pemberitaan tentang potensi dan hal-hal positif di Papua.

“Kita bisa memberikan pemahaman bahwa Papua bukan hanya soal konflik, tetapi juga memiliki banyak potensi yang bisa dikembangkan,” jelasnya.

Ia juga menyoroti fenomena kecanduan media sosial yang tidak hanya dialami pelajar, tetapi juga pekerja jurnalistik.

“Bukan hanya anak sekolah, jurnalis juga bisa kecanduan media sosial,” katanya.

Menanggapi pertanyaan peserta, Dian mengusulkan gagasan program rehabilitasi kecanduan media sosial sebagai salah satu opsi kebijakan pemerintah di era digital, dengan pendekatan psikologi, teknologi informasi, serta keterlibatan keluarga.

Dian mengapresiasi tingginya antusiasme pelajar yang ingin belajar membuat konten positif dan informatif di media sosial.

“Media sosial yang selama ini dipakai untuk hiburan, sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk menyampaikan informasi dan pemberitaan yang baik,” ujarnya.

Di akhir pemaparannya, Dian mengajak jurnalis untuk terus mengembangkan kapasitas diri dan tidak stagnan menghadapi perubahan ekosistem media digital.

“Kita tidak bisa berhenti di tempat yang sama. Jurnalis juga harus terus mengupdate diri agar tetap relevan di tengah arus informasi media sosial,” pungkasnya.

Workshop ini merupakan bagian dari Festival Media Se-Tanah Papua yang berlangsung 13–15 Januari 2026, dengan rangkaian kegiatan meliputi pelatihan jurnalistik investigasi, talk show, pameran foto, hingga malam penganugerahan Papua Jurnalistik Award 2026. (*/vis)

Jumlah Pengunjung: 17

Read Entire Article
Sumut Bermartabat| Timika Hot | | |