MATERI – Citra Dyah Prastusti, Wakil Ketua Umum AMSI Pusat saat membawakan materi dengan dipandu Jean Bisay dalam Festival Media di Nabire, Rabu (14/1/2026). (FOTO:DOK.PRIBADI)
TIMIKA, timikaexpress.id – Festival Media Papua Raya 2026 pada hari kedua, Rabu (14/1/2026) di sesi talk show bertema “Konten Lokal, Untung Global: Model Bisnis Media Siber Papua” menghadirkan Citra Dyah Prastusti, Wakil Ketua Umum AMSI Pusat, sebagai narasumber.
Talk show ini dipandu oleh Jean Bisay.
Dalam pemaparannya, Citra menegaskan bahwa audiens saat ini menjadi pemilik utama perhatian media.
Namun, realitas menunjukkan generasi muda tidak lagi mengakses berita melalui website. Informasi justru mereka peroleh dari platform media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube.
“Di situlah audiens berada. Pertanyaannya, apakah media juga sudah hadir di ruang-ruang tersebut?” ujarnya.
Menurut Citra, industri media tengah berada dalam pusaran disrupsi digital.
Pola konsumsi informasi berubah drastis, dari ketergantungan pada website ke dominasi media sosial.
Perubahan ini turut memengaruhi pola produksi konten yang kini serba cepat dan berbasis platform.
Selain itu, disrupsi digital juga berdampak pada model pembiayaan media.
Iklan konvensional dinilai tidak lagi cukup menopang operasional media. Banyak media mulai mengembangkan strategi alternatif, seperti penyelenggaraan event, kolaborasi, dan program berbasis komunitas, guna menjaga keberlanjutan bisnis.
Kondisi tersebut diperparah oleh dominasi programmatic ads yang dikuasai platform besar seperti Google dan Facebook.
Media pun terdorong mengejar trafik karena berkorelasi langsung dengan pendapatan, sementara di sisi lain audiens justru enggan mengakses website.
Memasuki jurnalisme 2026, Citra memprediksi adanya pergeseran dari sekadar cerita ke substansi.
Media dituntut menghadirkan kedalaman, konteks, dan makna, bukan hanya narasi permukaan.
Ia menekankan pentingnya kejelasan strategi media, termasuk menentukan audiens yang dituju dan platform yang digunakan.
Media yang dipilih audiens, kata dia, adalah media yang memiliki jangkauan, konsistensi nilai demokrasi, penguatan sumber daya, serta konten yang relevan dan berkualitas.
Di tengah maraknya konten berbasis kecerdasan buatan (AI) di media sosial, Citra mengingatkan bahwa publik justru membutuhkan konten yang original, faktual, dan dapat dipercaya.
Peran jurnalis menjadi krusial untuk membantu publik membedakan fakta dan rekayasa.
Ia juga menyoroti ketergantungan media lokal pada iklan sebagai tantangan serius.
Minimnya sumber pendapatan alternatif membuat media berada dalam posisi rentan ketika iklan bermasalah.
Karena itu, media tidak bisa hanya mengandalkan berita harian. Membangun relasi dengan audiens menjadi kunci.
Audiens tidak cukup dipahami sebagai angka, melainkan sebagai komunitas yang perlu diajak berinteraksi dan dilibatkan.
Citra mencontohkan sejumlah media di Amerika Serikat yang sejak awal memetakan audiens secara jelas, lalu memproduksi konten yang spesifik dan terarah.
Pendekatan berbasis data ini membuat media mampu menyajikan konten yang lebih relevan dan tepat sasaran.
“Perubahan memang tidak menenangkan, tetapi itulah jalan untuk bertumbuh,” ujarnya seraya menegaskan bahwa kesadaran terhadap audiens dan keberanian beradaptasi menjadi kunci agar media tetap relevan dan berkelanjutan di era digital. (vis)
Jumlah Pengunjung: 23

6 days ago
23

















































