WORKSHOP HAK PENERBIT – Anggota Komite Publisher Rights Pusat, Sasmito Mardim (kanan), didampingi Albert Yomo, menyampaikan materi dalam workshop Festival Media Se-Tanah Papua di Nabire. (FOTO: PANITIA FESMED 2026)
TIMIKA, timikaexpress.id – Anggota Komite Publisher Rights Pusat sekaligus Koordinator Bidang Pelatihan dan Program Jurnalisme Berkualitas, Sasmito Mardim, mendorong media di Tanah Papua untuk segera menjalin kerja sama dengan perusahaan platform digital guna mengatasi penurunan pendapatan industri media.
Hal tersebut disampaikan Sasmito dalam Workshop Sesi II bertema “Know Your Right, Protect Your Content: Sosialisasi Hak Penerbit untuk Media Papua” pada rangkaian Festival Media Se-Tanah Papua yang digelar di Kabupaten Nabire, Rabu (14/1/2026).
Workshop yang dipandu moderator Albert Yomo, merupakan bagian dari festival yang diinisiasi Asosiasi Wartawan Papua (AWP) dan berlangsung selama tiga hari, 13–15 Januari 2026.
Sasmito menegaskan, kondisi industri media saat ini sedang tidak baik-baik saja. Pendapatan media terus menurun, bahkan berdampak pada maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK).
“Kondisi media hari ini tidak baik-baik saja. Pendapatan anjlok dan terjadi PHK. Salah satu penyebabnya adalah distribusi digital,” ujarnya.
Ia menjelaskan, iklan digital yang sebelumnya diharapkan masuk ke perusahaan media justru lebih banyak terserap oleh platform digital global seperti Meta, TikTok, Microsoft, dan lainnya.
Menurutnya, pemerintah sebenarnya telah menerbitkan regulasi terkait kerja sama antara media dan platform digital sejak lebih dari satu tahun lalu, termasuk pembentukan komite terkait.
“Regulasinya sudah ada, komitenya juga sudah terbentuk. Tinggal dimanfaatkan. Jangan sampai yang memanfaatkan hanya segelintir media, padahal jumlah media di Indonesia ribuan,” jelasnya.
Karena itu, Sasmito mendorong media, khususnya di Papua, untuk segera mengambil langkah konkret menjalin kerja sama dengan perusahaan platform digital.
Selain itu, ia juga memaparkan rencana pembentukan Dana Jurnalisme Indonesia yang saat ini sedang dibahas bersama Komite dan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
“Konsepnya seperti dana abadi. Dana ini bisa dimanfaatkan perusahaan media untuk mendukung liputan kepentingan publik sekaligus mengembangkan model bisnis media,” paparnya.
Dana tersebut, lanjut Sasmito, juga dapat digunakan untuk riset dan pengembangan jurnalisme berkualitas berkelanjutan, mengingat masih banyak perusahaan media yang belum sepenuhnya memahami model bisnis di era digital.
“Mudah-mudahan Dana Jurnalisme Indonesia bisa segera terwujud tahun ini, dengan Dewan Pers sebagai leading sector, bersama Komite dan Komdigi,” harapnya.
Sasmito turut mengapresiasi AWP atas terselenggaranya Festival Media Se-Tanah Papua untuk pertama kalinya.
Menurutnya, kegiatan ini menjadi ruang penting bagi pertemuan media, masyarakat, dan pemerintah.
“Festival ini keren sekali karena melibatkan jurnalis, perusahaan media, dan masyarakat. Ini bisa menjadi jembatan komunikasi yang baik,” katanya.
Ia berharap forum semacam ini dapat mendorong penguatan kemerdekaan pers di Tanah Papua, yang menurut Indeks Kemerdekaan Pers Dewan Pers masih memiliki tantangan, terutama terkait keselamatan jurnalis dan regulasi.
“Kemerdekaan pers penting untuk literasi masyarakat. Kebebasan pers harus dirawat bersama. Karena itu, kegiatan seperti ini perlu dilanjutkan di tahun-tahun mendatang,” pungkasnya.
Festival Media Se-Tanah Papua berlangsung pada 13–15 Januari 2026, diikuti 149 jurnalis dari enam provinsi di Tanah Papua, dengan rangkaian kegiatan meliputi pelatihan jurnalistik investigasi, talk show, pameran foto, hingga malam penganugerahan Papua Jurnalistik Award 2026. (*/vis)
Jumlah Pengunjung: 19

6 days ago
23

















































