Brimob Papua Tengah Perketat Pengamanan Pasca Perdamaian Konflik Kwamki Narama

6 days ago 24
FOTO: GREN/TIMEX  Danyon Brimob B Pelopor Satbrimob Polda Papua Tengah Kompol Unisimus Umbu Sairo, S.I.K bersama Kasat Reskrim Polres Mimika AKP Rian Oktaria saat pemantauan situasi keamanan pasca perdamaian konflik di Kwamki Narama. (FOTO: GREN/TIMEX)

TIMIKA, timikaexpress.id – Pasca penandatanganan perdamaian konflik di Kwamki Narama pada 12 Januari 2026, personel Brimob Yon B Pelopor Satbrimob Polda Papua Tengah tetap disiagakan untuk memastikan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat berjalan aman dan kondusif.

Komandan Yon B Pelopor Satbrimob Polda Papua Tengah, Kompol Unisimus Umbu Sairo, S.I.K, menegaskan bahwa kehadiran Brimob di lapangan bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk nyata perlindungan kepada masyarakat.

“Brimob untuk masyarakat bukan hanya slogan. Kami ingin masyarakat Kwamki bisa tidur nyenyak. Kami hadir untuk mengamankan dan mencegah potensi gangguan keamanan,” ujarnya.

Menurut Unisimus, aparat akan menindak tegas jika ditemukan ancaman nyata, seperti warga yang mabuk sambil membawa alat perang di wilayah perkotaan.

“Kalau ditemukan ancaman, kami amankan. Ini wilayah kota, tetap harus tertib,” tegasnya.

Ia menegaskan bahwa aparat tetap menghormati nilai-nilai adat yang berlaku.

Kepemilikan senjata tajam untuk keperluan berkebun atau alat panah dalam konteks adat masih diperbolehkan, selama tidak disalahgunakan dan tidak mengganggu keamanan.

Unisimus juga mengingatkan bahwa fase pasca perdamaian justru menjadi periode rawan munculnya konflik susulan.

Oleh karena itu, pengamanan tetap dilakukan secara maksimal agar perdamaian benar-benar membawa ketenangan bagi masyarakat.

“Perdamaian adat tidak menghapus hukum positif. Jika unsur pidana terpenuhi, tetap diproses sesuai hukum. Adat dan hukum positif harus dipisahkan,” jelasnya.

Ia menegaskan tidak ada budaya atau adat yang membenarkan kekerasan, terlebih hingga menghilangkan nyawa manusia.

“Budaya kita hormati, tetapi keselamatan manusia adalah prioritas utama,” katanya.

Sementara itu, pengamanan dilakukan secara proporsional dan humanis agar kehadiran aparat tidak menimbulkan rasa takut, melainkan rasa aman di tengah masyarakat.

Meski masih ditemukan segelintir warga yang membawa panah pada malam hari untuk berjaga, aparat mengimbau agar hal tersebut tidak memicu ketegangan baru.

“Negara harus hadir ketika masyarakat merasa terancam. Tidak boleh ada intimidasi dalam bentuk apa pun. Kita ingin Kwamki menjadi wilayah yang aman dan nyaman bagi siapa pun,” pungkasnya. (via)

Jumlah Pengunjung: 16

Read Entire Article
Sumut Bermartabat| Timika Hot | | |