Layanan Kesehatan Mimika 2026, Reynold: Pustu Diperkuat, Keselamatan Pasien jadi Prioritas

2 days ago 12

TIMIKA, TimeX

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika, Papua Tengah, menegaskan bahwa seluruh Fasilitas Kesehatan (Faskes), baik rumah sakit, puskesmas, maupun klinik swasta, wajib mengutamakan keselamatan pasien, terutama pasien dalam kondisi kritis.
Kepala Dinkes Mimika Reynold Ubra di Timika, Kamis, mengatakan bahwa keselamatan pasien merupakan prinsip utama yang harus menjadi fokus semua faskes di Mimika.
“Jangan karena hanya masalah pembiayaan kemudian pasien tidak terlayani dengan baik,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa seluruh faskes, termasuk swasta yang belum bekerja sama dengan BPJS Kesehatan, tetap berkewajiban memberikan pelayanan kepada pasien.
“Yang tidak ditanggung BPJS bisa diklaim ke Dinas Kesehatan. Kami sudah memiliki perjanjian kerja sama (PKS) dengan semua faskes, baik milik pemerintah maupun swasta,” tambah Reynold.
Masyarakat yang ingin mendapatkan layanan kesehatan pada faskes yang telah bekerja sama dengan Dinkes Mimika diwajibkan membawa Kartu Tanda Penduduk (KTP) Mimika.
“Kalau bukan pasien gawat darurat, silakan ke fasilitas kesehatan terdekat seperti pustu, puskesmas, atau klinik. Jangan lupa membawa KTP,” katanya.
Desentralisasi Layanan Kesehatan 2026
Pada 2026, Dinkes Mimika akan melakukan desentralisasi pelayanan kesehatan dari puskesmas ke tingkat puskesmas pembantu (pustu). Seluruh pustu akan diperkuat dari sisi SDM medis maupun nonmedis, serta sarana dan prasarana layanan.
“Pustu sebagai garda terdepan yang dekat dengan masyarakat harus mampu memberikan mutu layanan yang optimal,” ujar Reynold.
Menjelang akhir 2025, Dinkes Mimika akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh rumah sakit, puskesmas, pustu, dan klinik untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan layanan selama Natal dan Tahun Baru.
Evaluasi juga mencakup kesiapan pelayanan dasar, pelayanan rujukan, dan persiapan Bulan Imunisasi Campak dan Polio yang akan berlangsung Januari–Maret 2026.
“Biasanya di awal tahun kasus campak meningkat. Kami juga mengantisipasi temuan polio dan naiknya kasus demam berdarah seperti beberapa tahun terakhir,” katanya.
Reynold menambahkan bahwa kejadian meninggalnya seorang ibu hamil di Jayapura, Irene Sokoy, menjadi pengingat pentingnya penanganan cepat terhadap pasien kritis.
Irene, warga Kampung Hobong, Sentani, meninggal dunia bersama bayinya pada Senin (17/11) setelah tidak mendapatkan layanan memadai meski telah dirujuk ke beberapa rumah sakit sebelum akhirnya mendapat resusitasi di RS Bhayangkara. (*/ant)

Jumlah Pengunjung: 35

Read Entire Article
Sumut Bermartabat| Timika Hot | | |