Wimas Pariarta, M.Psi, Psikolog Klinis dari Indonesian Psychological Healthcare Center. (FOTO:DOK.PRIBADI)
MIMIKA, timikaexpress.id — Seseorang yang mengalami gejala gangguan kesehatan mental tidak serta-merta dapat dikategorikan sebagai Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).
Psikolog Klinis dari Indonesian Psychological Healthcare Center, Wimas Pariarta, M.Psi, mengatakan kondisi kesehatan mental berada dalam sebuah spektrum.
Penilaiannya tidak hanya berdasarkan gejala, tetapi juga kemampuan seseorang mengontrol emosi, perilaku, dan pola pikir serta dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari.
Hal itu disampaikan Wimas dalam wawancara daring melalui Google Meet, Rabu (12/8/2026).
“Lebih ke kontrol. Ada yang masih mampu mengontrol emosi, perilaku, pola pikir sehingga spektrumnya tidak sampai 100. Sedangkan yang satunya tidak mampu mengontrol hal-hal itu,” jelas Wimas.
Menurut dia, gangguan mental dapat memengaruhi pola pikir, emosi, dan perilaku hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
Gejalanya beragam, antara lain depresi, kecemasan, mati rasa, gangguan tidur, hingga halusinasi.
Namun, gejala tersebut tidak dapat dijadikan dasar untuk langsung menentukan diagnosis.
“Gejala dan diagnosis itu berbeda. Yang membedakan adalah diagnosisnya,” katanya.
Perlu Dilihat Dampaknya
Wimas juga menanggapi kondisi seorang warga yang dalam sebuah liputan disebut telah hampir tiga tahun berada di tempat penampungan dan kerap mendengar suara atau bisikan yang menurut keluarganya tidak berasal dari lingkungan sekitar.
Menurut Wimas, kondisi tersebut perlu dilihat dari sejauh mana gejala yang dialami memengaruhi fungsi sehari-hari.
“Dari mendengar bisikan itu tadi, ada tidak fungsi yang hilang? Contohnya jadi tidak bisa beraktivitas seperti normal kembali? Kalau mengganggu fungsi berarti termasuk gangguan mental. Digolongkan ODGJ atau tidak, itu kembali ke spektrum,” ujarnya.
Ia mengatakan, apabila halusinasi atau suara bisikan sudah mengganggu aktivitas sehari-hari maupun kemampuan merawat diri, orang tersebut perlu mendapatkan penanganan kesehatan mental.
Wimas juga menekankan pentingnya dukungan keluarga.
Menurut dia, keluarga dapat berperan sebagai pendamping, meski menjadi caregiver bagi orang dengan gangguan kesehatan mental bukan perkara mudah.
“Menjadi caregiver untuk orang dengan gangguan mental itu berat juga,” katanya.
Keterbatasan Layanan
Di Timika, penanganan kesehatan mental masih menghadapi sejumlah keterbatasan, termasuk ketersediaan fasilitas kesehatan jiwa serta tenaga profesional seperti psikolog dan psikiater.
Wimas mengingatkan masyarakat agar tidak mudah memberikan label kepada seseorang hanya berdasarkan gejala yang terlihat.
Dukungan keluarga dan lingkungan sosial dinilai penting dalam proses pemulihan.
“Kita benar-benar tidak bisa mengontrol apa yang bisa terjadi pada orang lain. Begitu penting peran sosial, terutama keluarga terdekat, untuk mengembalikan semangat dari orang yang memiliki gangguan kesehatan mental,” tuturnya.
Sementara itu, Direktur PT Timika Grafika Express, Harry Thenggo Wijaya menilai seminar dan diskusi mengenai kesehatan mental penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya remaja.
Menurut dia, edukasi kesehatan mental juga perlu membahas cara anak dan remaja melindungi diri, termasuk hal-hal yang bersifat pribadi dan intim.
“Pembahasan ini jangan tabu,” kata Harry. (cr-72)
Jumlah Pengunjung: 125

8 hours ago
6
















































