BMKG: El Nino Sangat Kuat Berpotensi Bertahan hingga Awal 2027

12 hours ago 7
RAKOR – Suasana rapat koordinasi (Rakor) penanganan dampak El Nino di Papua Tengah digelar di Ballroom Kantor Gubernur Papua Tengah, Minggu (23/8/2026). Pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten, Forkopimda, BMKG, dan instansi terkait membahas langkah antisipasi kekeringan, karhutla, serta ancaman terhadap ketersediaan pangan. (FOTO:HUMAS PEMPROV PAPUA TENGAH)

NABIRE, timikaexpress.id — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan fenomena El Nino saat ini berada pada kategori sangat kuat dan berpotensi bertahan hingga awal 2027.

Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Provinsi Papua Tengah meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta gangguan terhadap ketersediaan pangan.

Hal tersebut dibahas dalam rapat koordinasi penanganan dampak El Nino yang digelar di Ballroom Kantor Gubernur Papua Tengah, Minggu (23/8/2026).

Rapat diikuti unsur pemerintah provinsi, delapan pemerintah kabupaten, Forkopimda, BMKG, dan instansi terkait.

Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa, yang mengikuti rapat melalui sambungan Zoom, menegaskan bahwa kekeringan di Kabupaten Puncak dan kebakaran di sejumlah wilayah harus ditangani secara serius dan terpadu.

Menurut Meki, pemerintah telah memiliki satuan tugas (Satgas) untuk menangani dampak El Nino.

Penanganan tersebut juga akan dikoordinasikan dengan pemerintah pusat, termasuk untuk memperoleh dukungan pangan, transportasi udara, dan bantuan lainnya.

“Dengan dampak dari El Nino di Papua Tengah ini, termasuk kekeringan di Puncak dan juga beberapa daerah yang terbakar, ini menjadi tanggapan serius kita,” kata Meki.

Meki juga mengingatkan bahwa kebakaran hutan tidak selalu disebabkan oleh faktor cuaca.

Ia menyebut adanya indikasi kebakaran yang perlu diwaspadai karena berpotensi dimanfaatkan untuk mengganggu stabilitas daerah.

Ia meminta pemerintah provinsi, delapan pemerintah kabupaten, Forkopimda, dan masyarakat bersatu menyusun strategi penanganan.

Menurutnya, koordinasi lintas daerah penting agar langkah pencegahan dan penanggulangan dapat berjalan serentak.
“Bagaimana kita bersatu untuk melakukan langkah-langkah strategi untuk penanganan hal ini,” ujarnya.

El Nino Kategori Sangat Kuat

Pelaksana Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas III Nabire, Husain, menjelaskan bahwa kondisi iklim saat ini dipengaruhi posisi matahari dan aktifnya angin monsun Australia yang bersifat kering.

Kondisi tersebut menyebabkan sebagian besar wilayah Indonesia mengalami musim kemarau dengan curah hujan relatif rendah.

Papua Tengah juga mulai merasakan dampaknya dalam beberapa hari terakhir.

Husain menyebutkan, indeks El Nino 3.4 berdasarkan pemutakhiran dasarian I Agustus 2026 berada di angka +2,77.

Angka tersebut menunjukkan fenomena El Nino dalam kategori sangat kuat atau very strong El Nino.

“Ini menunjukkan bahwa kondisi saat ini sedang terjadi fenomena El Nino dengan kategori sangat kuat atau very strong El Nino,” kata Husain.

Fenomena tersebut menyebabkan pasokan uap air untuk pembentukan awan berkurang.

Dampaknya antara lain penurunan curah hujan secara signifikan, kemarau panjang, kekeringan, meningkatnya risiko karhutla, serta ancaman embun beku di wilayah pegunungan.

Berpotensi hingga Triwulan I 2027

BMKG memprediksi kondisi El Nino sangat kuat masih berpotensi berlangsung hingga akhir 2026.

Dampaknya bahkan diperkirakan masih terasa hingga triwulan pertama 2027.

Husain menjelaskan, anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 pada periode Juni-Juli-Agustus 2026 tercatat sebesar +2,18.

Angka tersebut menunjukkan intensitas El Nino berada pada kategori sangat kuat.

Berdasarkan prediksi BMKG, kondisi tersebut berpotensi bertahan hingga periode November-Desember-Januari.

Tren penurunan diperkirakan mulai terlihat pada periode Desember 2026 hingga Februari 2027.

“Artinya kondisi saat ini El Nino masih akan bertahan sampai dengan triwulan satu tahun 2027. Ini perlu kita waspadai,” jelasnya.

Secara umum, Papua Tengah merupakan wilayah dengan tipe musim satu musim atau mengalami musim hujan sepanjang tahun.

Namun, sejumlah Zona Musim (ZOM) di wilayah tersebut tetap memiliki periode musim kemarau.

BMKG mencatat ZOM 678 yang mencakup wilayah Puncak dan Puncak Jaya berpotensi mengalami musim kemarau selama sekitar 16 hingga 18 dasarian, atau lima sampai enam bulan.

Sementara itu, ZOM 692 diperkirakan mengalami musim kemarau selama sekitar 3 hingga 16 dasarian, atau satu sampai dua bulan.

Kondisi tersebut semakin perlu diwaspadai karena sejumlah wilayah pada zona musim tertentu diprediksi mengalami kemarau di bawah kondisi normal.

Khusus ZOM 678, curah hujan diperkirakan jauh lebih rendah dibandingkan kondisi normal periode 1991-2020.

Perkuat Koordinasi

Gubernur Meki Nawipa meminta hasil rapat koordinasi menghasilkan pembagian tugas yang jelas antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, dan Forkopimda.

Menurutnya, dampak El Nino tidak hanya berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan.

Kekeringan juga berpotensi mengganggu ketersediaan air bersih dan pangan, terutama bagi masyarakat di wilayah pedalaman.

“Bagaimana kita merumuskan siapa buat apa dan kita melakukan apa dengan Satgas besar, kita bisa menjadi satu promotor untuk mendorong semua ini,” tegasnya.

Ia berharap seluruh pihak dapat mengambil keputusan bersama untuk meminimalkan risiko kebakaran hutan sekaligus mengantisipasi dampak kekeringan terhadap kebutuhan dasar masyarakat Papua Tengah. (*)

Jumlah Pengunjung: 75

Read Entire Article
Sumut Bermartabat| Timika Hot | | |