Debit Air Mulai Menipis, Dampak Kemarau Mulai Dirasakan di Pesisir Mimika

6 hours ago 3
Kapolsek Mimika Barat Ipda Muhammad Yani menyampaikan kondisi menurunnya debit air di sejumlah wilayah pesisir Mimika akibat musim kemarau, Senin (24/8/2026). (FOTO: GREN/TIMEX)

MIMIKA, timikaexpress.id — Dampak musim kemarau mulai dirasakan masyarakat di wilayah pesisir Kabupaten Mimika.

Salah satu indikasinya terlihat dari menurunnya debit air sungai dan sumur yang menjadi sumber kebutuhan sehari-hari.

Kapolsek Mimika Barat Ipda Muhammad Yani mengatakan, kondisi tersebut mulai dirasakan di sejumlah wilayah pesisir.

Bahkan, personel Polsek Mimika Barat dan Koramil setempat sempat mengalami kesulitan mendapatkan air bersih saat perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2026.

“Waktu acara 17 Agustus itu, anggota saya termasuk anggota Koramil datang ambil air ke Kokonao untuk mandi. Itu berarti sudah ada dampaknya,” ujar Yani, Senin (24/8/2026).

Menyikapi kondisi tersebut, Yani telah memerintahkan personel di wilayah pesisir untuk melakukan pengecekan rutin terhadap kondisi mata air dan aliran kali.

Penurunan debit air menjadi salah satu indikator dampak kekeringan yang mulai terjadi.

Menurutnya, penurunan debit air cukup terlihat di wilayah Amar.

Sementara itu, di Kokonao masih tersedia air penampungan yang didatangkan dari Atuka.

Namun, kapasitas penampungan air di Mapolsek Mimika Barat dinilai tidak akan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat apabila kondisi kekeringan terus berlanjut.

Saat ini, khusus di Kokonao, masih tersedia air penampungan yang didatangkan dari Atuka. Namun, kapasitas kolam penampung di Mapolsek Mimika Barat tidak akan mampu memenuhi kebutuhan air bagi seluruh masyarakat jika kekeringan berlanjut,” jelasnya.

Kapiraya Kembali Kondusif

Di sisi lain, Yani memastikan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) di seluruh wilayah Mimika Barat tetap kondusif.

Termasuk di wilayah Kapiraya yang sebelumnya sempat memanas akibat konflik tapal batas. Saat ini, situasi di wilayah tersebut telah kembali aman dan aktivitas masyarakat berjalan normal.

Yani juga meluruskan informasi mengenai adanya masyarakat yang berpindah dan tinggal di kawasan pesisir pantai.

Menurutnya, perpindahan tersebut merupakan bagian dari pola hidup tradisional masyarakat setempat yang terbiasa berpindah-pindah, bukan karena mengungsi akibat konflik maupun bencana.

Kalaupun ada masyarakat yang hidup ke wilayah pesisir pantai, itu merupakan kebiasaan berpindah-pindah, bukan mengungsi,” pungkasnya. (via)

Jumlah Pengunjung: 109

Read Entire Article
Sumut Bermartabat| Timika Hot | | |