Jarak Pandang Menurun Drastis, BMKG Pastikan Kabut Asap Belum Ganggu Penerbangan Mimika

3 hours ago 3
BMKG — Forecaster BMKG Mimika Dwi Christanto menyampaikan kondisi cuaca, penurunan jarak pandang, serta dampak El Nino dan kabut asap di wilayah Mimika, Senin (24/8/2026)(FOTO:SELVY/TIMEX)

MIMIKA, timikaexpress.id — Jarak pandang di wilayah Mimika mengalami penurunan cukup drastis akibat kabut yang bercampur asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Meski demikian, kondisi tersebut hingga Senin (24/8/2026) belum berdampak terhadap aktivitas penerbangan.

Forecaster BMKG Mimika, Dwi Christanto, mengatakan berdasarkan pemantauan hotspot pada Senin (24/8/2026) pukul 09.00 WIT, terdapat 632 titik panas yang terdeteksi di Provinsi Papua Tengah.

Dari jumlah tersebut, 39 titik berada pada tingkat kepercayaan rendah, 560 titik tingkat kepercayaan sedang, dan 33 titik tingkat kepercayaan tinggi.

Sebaran hotspot terbanyak berada di Kabupaten Nabire dengan 259 titik, disusul Dogiyai 186 titik, Paniai 87 titik, Puncak 44 titik, Intan Jaya 39 titik, Deiyai 13 titik dan Puncak Jaya tiga titik.

Sementara di Kabupaten Mimika terpantau satu hotspot dengan tingkat kepercayaan sedang.

Dwi menjelaskan, kondisi cuaca saat ini dipengaruhi musim kemarau serta dominasi angin timur hingga tenggara yang berkaitan dengan Monsun Australia.

Kondisi tersebut diperkuat fenomena El Nino yang saat ini berada pada kategori sangat kuat.

Berdasarkan data terbaru BMKG, anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 berada di sekitar +2,99 derajat Celsius.

“Sudah musim kemarau, El Nino tambah kuat. Sudah kering, ditambah kering. Prediksi BMKG, El Nino kuat ini bisa sampai Januari 2027. El Nino kuat ini bisa mengurangi curah hujan di wilayah yang dilewatinya,” ujar Dwi.

Jarak Pandang Turun Drastis

Menurut Dwi, kondisi kabut dan asap belum sampai mengganggu operasional penerbangan di Mimika.

Namun, jarak pandang di sekitar Bandara Mozes Kilangin sempat mengalami penurunan cukup signifikan.

Ia mengatakan, kondisi tersebut terlihat pada Senin pagi ketika kabut bercampur asap membuat pandangan terhadap pesawat yang melakukan lepas landas tidak sejelas kondisi normal.

“Sampai hari ini, fenomena kabut asap ini belum memengaruhi penerbangan, namun beberapa kendala terjadi, seperti penurunan jarak pandang yang sangat drastis,” katanya.

Dwi menjelaskan, kabut dan asap memiliki karakteristik berbeda.

Kabut cenderung berkurang ketika matahari mulai muncul, sementara asap akibat pembakaran dapat kembali meningkat apabila aktivitas pembakaran terus berlangsung.

“Kalau kabut itu, matahari muncul, kabut hilang. Sedangkan kalau asap, matahari muncul, ya, terbakar lagi,” ujarnya.

BMKG berharap kondisi tersebut tidak semakin parah, terutama di tengah musim kemarau dan meningkatnya aktivitas kebakaran lahan di sejumlah wilayah Papua Tengah.

Warga Diminta Hemat Air

Selain menurunkan kualitas udara dan jarak pandang, kondisi kemarau yang diperkuat El Nino juga berpotensi berdampak terhadap ketersediaan air.

Dwi mengatakan kekeringan dapat menyebabkan pasokan air tanah, termasuk dari sumur bor, berkurang apabila tidak terjadi hujan dalam waktu yang cukup lama.

“Kalau tidak ada hujan, otomatis pasokan air tanah juga berkurang. Cuma harapan kita selaku manusia, kalau bisa jangan sampai itu terjadi. Kalau seperti itu, ya hemat-hemat air,” katanya.

Dampak kekeringan tersebut mulai dirasakan sejumlah warga Mimika. Salah satunya Alexander yang mengaku sumur bor di rumahnya telah mengalami kekeringan selama sekitar lima hari.

“Air sudah kering sekitar lima hari, kami benar-benar kesulitan. Untung ada tetangga, jadi bisa ambil air dari tetangga sebelah rumah,” ungkapnya.

Menurut Alexander, kondisi tersebut merupakan pengalaman pertama yang dialaminya. Ia berharap hujan segera turun sehingga ketersediaan air kembali normal.

Ia juga mengajak masyarakat menghemat penggunaan air selama kondisi kemarau masih berlangsung.

Kondisi cuaca saat ini menjadi perhatian karena kombinasi El Nino sangat kuat, musim kemarau, hotspot dan kabut asap berpotensi meningkatkan risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan di Papua Tengah. (cr-73)

Jumlah Pengunjung: 51

Read Entire Article
Sumut Bermartabat| Timika Hot | | |