Disparekraf Mimika Kembangkan Ekowisata Mangrove Lewat Pendekatan Budaya Piripa

2 days ago 12
SOSIALISASI – Kepala Disparekraf Mimika, Elisabeth Cenawatin bersama jajaran saat sosialisasi kepada warga RT 9 Kampung Poumako, Selasa (20/1/2026). (FOTO:DOK.Disparekraf)

TIMIKA, timikaexpress.id – Dinas Pariwisata, Kebudayaan, dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Kabupaten Mimika terus mendorong pengembangan ekowisata mangrove di kawasan Pomako dengan melibatkan masyarakat setempat, khususnya warga RT 09 Kampung Poumako.

Sebagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang baru dibentuk, Kepala Disparekraf Mimika dan jajarannya melakukan kunjungan perdana sekaligus sosialisasi kepada masyarakat setempat.

Sosialisasi guna membangun kesadaran bersama dalam menjaga dan melindungi fasilitas ekowisata yang telah tersedia.

Kepala Disparekraf Mimika, Elisabeth Cenawatin, mengatakan pendekatan yang dilakukan menggunakan Piripa, yakni pola komunikasi dan musyawarah yang sesuai dengan budaya Suku Kamoro, agar rencana pengembangan ekowisata dapat dipahami dan diterima oleh masyarakat.

“Sosialisasi kami lakukan dengan duduk bersama, bakar ikan, bakar sagu, dan makan bersama. Kami mengajak masyarakat RT 09 untuk ikut menjaga ekowisata mangrove yang ada,” ujar Elisabeth, Selasa (20/1/2026).

Menurutnya, pendekatan tersebut penting dilakukan menyusul adanya temuan pencurian material berupa kayu pembangunan jembatan tracking serta tandon penampungan air di kawasan ekowisata mangrove.

Dalam pertemuan tersebut, masyarakat juga menyampaikan aspirasi agar pembangunan jembatan tracking dilanjutkan hingga terhubung langsung ke Kampung Pomako, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai akses penyeberangan warga.

“Masyarakat menyampaikan terima kasih atas upaya pengembangan yang dilakukan dan mengusulkan agar tracking dibangun sampai ke kampung mereka, karena di sana juga terdapat Sanggar Tikiri,” jelasnya.

Ke depan, Disparekraf Mimika juga merencanakan pembangunan pondok wisata sebagai tempat singgah pengunjung, serta pemasangan pagar keliling untuk menjaga keamanan kawasan dan mencegah hilangnya fasilitas.

Elisabeth menegaskan, pengembangan ekowisata mangrove di Pomako diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat setempat.

Lokasi tersebut direncanakan menjadi ruang promosi dan penjualan hasil karya warga, seperti anyaman, ukiran, serta hasil tangkapan laut seperti ikan dan kepiting.

“Saya melihat RT 09 Kampung Poumako sangat potensial menjadi kampung wisata. Pertemuan kemarin menjadi momentum penting untuk membahas bersama masyarakat bagaimana pengelolaan ekowisata ke depan,” ujarnya.

Ia menyebutkan, wilayah pesisir Kabupaten Mimika memiliki kawasan hutan mangrove seluas kurang lebih 300 ribu hektare yang membentang di sepanjang garis pantai.

Hutan mangrove tersebut merupakan benteng alam sekaligus kawasan lindung adat yang memiliki nilai budaya bagi Suku Kamoro.

“Kekayaan alam ini harus dikelola sebaik-baiknya demi kesejahteraan masyarakat Mimika, mulai dari wilayah pegunungan, dataran rendah, hingga pesisir,” kata Elisabeth.

Disparekraf Mimika menekankan pengembangan pariwisata berbasis masyarakat sebagai konsep utama, yakni pariwisata berkelanjutan, bertanggung jawab, ramah lingkungan, dan berpihak pada masyarakat lokal, di mana warga menjadi subjek sekaligus penerima manfaat dari pengelolaan destinasi wisata. (har)

Jumlah Pengunjung: 53

Read Entire Article
Sumut Bermartabat| Timika Hot | | |