Dari Berita ke Viral, Media Sosial Perlu Dikelola dengan Perspektif Damai

6 days ago 25
WORKSHOP MEDSOS – Kepala Biro Antara Papua, Dian Kandipi, menyampaikan materi tentang strategi media sosial dan jurnalisme damai pada Festival Media Se-Tanah Papua di Nabire, Rabu (14/1/2026). (FOTO: PANITIA FESMED 2026)

NABIRE, timikaexpress.id – Kepala Biro LKBN Antara Papua, Dian Kandipi, menegaskan bahwa media sosial harus dimanfaatkan sebagai sarana jurnalisme damai, bukan sebagai pemantik provokasi dan konflik di Tanah Papua.

Penegasan ini disampaikan Dian dalam Workshop ke-2 bertema “Dari Berita ke Viral: Strategi Media Sosial untuk Jurnalis Papua”, yang digelar dalam rangka Festival Media Se-Tanah Papua, Rabu (14/1/2026).

Workshop yang dipandu Merit Waromi, wartawan sekaligus praktisi media, diikuti oleh pelajar, mahasiswa, dan jurnalis dari berbagai daerah di Papua.

Kata Dian banyak informasi dan pemberitaan konflik di Papua bermula dari konten media sosial yang tidak dikelola secara bijak.

“Bagaimana kita bisa menggunakan media sosial bukan sebagai pemantik provokasi, tetapi justru untuk menggaungkan jurnalisme damai di Papua,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya peran jurnalis dalam menyajikan konten media sosial yang memberi pemahaman utuh kepada publik, bukan memperkeruh situasi.

“Kita tahu banyak berita konflik di Papua bermula dari media sosial. Padahal kita juga bisa mengangkat potensi daerah, hal-hal positif yang bisa dikembangkan, bukan hanya konfliknya saja,” jelasnya.

Dian juga menyoroti fenomena kecanduan media sosial yang tidak hanya dialami pelajar, tetapi juga insan pers.

“Bukan hanya anak sekolah yang kecanduan media sosial. Kadang kita sebagai pekerja jurnalistik juga mengalami hal yang sama,” katanya.

Menanggapi pertanyaan peserta, Dian bahkan mengusulkan gagasan pembentukan program rehabilitasi kecanduan media sosial sebagai bagian dari kebijakan pemerintah ke depan.

“Tidak harus tempat besar. Cukup SDM yang paham psikologi, didampingi IT, serta melibatkan peran orang tua. Ini bisa menjadi program pemerintah yang relevan di era digital,” ungkapnya.

Ia mengapresiasi antusiasme pelajar yang ingin belajar memproduksi konten positif dan edukatif di media sosial.

“Anak-anak sekolah sangat antusias. Media sosial yang mereka gunakan sehari-hari sebenarnya bisa menjadi sarana menyampaikan informasi dan pemberitaan yang baik,” ujarnya.

Menurut Dian, selama ini pelajar cenderung menggunakan media sosial hanya untuk hiburan, padahal potensinya jauh lebih besar.

“Ketika mereka tahu bagaimana memproduksi konten yang baik, itu menjadi modal penting,” tambahnya.

Di akhir pemaparannya, Dian mengajak jurnalis untuk terus mengembangkan kapasitas diri dan tidak stagnan menghadapi perubahan ekosistem media.

“Kita tidak bisa berhenti di tempat yang sama. Kalau generasi Z sudah bergerak cepat, maka jurnalis juga harus terus mengupdate diri agar tetap relevan di tengah arus informasi digital,” pungkasnya.

Workshop ini merupakan bagian dari Festival Media Se-Tanah Papua yang berlangsung 13–15 Januari 2026, dengan rangkaian kegiatan meliputi pelatihan jurnalistik investigasi, talk show, pameran foto, hingga malam penganugerahan Papua Jurnalistik Award 2026. (/vis)

Jumlah Pengunjung: 19

Read Entire Article
Sumut Bermartabat| Timika Hot | | |