MONTESSORI – Miss Kelas 1G, Insar Songhonao sedang menerapkan metode montessori kepada salah satu siswa SATP. (FOTO: DIVISI HUMAS YPMAK)
TIMIKA, timikaexpress.id – Di ruang kelas yang penuh warna di Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP) Timika, anak-anak belajar dengan cara yang berbeda.
Tidak ada tekanan angka di papan tulis. Tidak ada paksaan untuk langsung mengejar target akademik, melainkan fokus pada pendidikan holistik.
Yang ada adalah proses pelan, sabar, dan terarah, membangun fondasi sebelum melangkah lebih jauh.
Program Montessori di SATP dirancang khusus untuk menjawab kebutuhan anak-anak Papua, terutama dari tujuh suku di sekitar wilayah operasional perusahaan di Timika.
Fokus utamanya bukan sekadar mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung (calistung), tetapi memastikan setiap anak memiliki dasar yang kuat sebelum memasuki kurikulum nasional.
Membangun Dasar, Bukan Sekadar Mengejar Nilai
Pada semester awal, anak-anak dibekali kemampuan dasar seperti keteraturan, fokus, konsentrasi, motorik halus, hingga persepsi visual, yaitu mengenal warna dan bentuk.
Pendekatan ini penting, karena tidak semua anak datang dengan kesiapan akademik yang sama.
Theodora Karmayanti, Kepala Program Montessori SATP, menjelaskan bahwa banyak anak di daerah ini belum memiliki fondasi pendidikan yang memadai.

“Kalau langsung dipaksakan mengikuti kurikulum nasional yang fokus akademik, mereka seperti ‘lompat’. Tidak punya dasar, akhirnya macet,” jelasnya.
Karena itu, Montessori di SATP mengedepankan proses.
Anak boleh bertahan di satu tahap hingga benar-benar memahami materi.
Tidak ada tekanan untuk terburu-buru.
Penilaian pun tidak menggunakan angka.
Guru melakukan observasi harian, mencatat perkembangan anak secara deskriptif.
Penggunaan aparatus seperti tongkat bilangan merah-biru membantu anak memahami konsep angka secara konkret, bukan sekadar menghafal.
Kelas yang Fleksibel dan Ramah Anak
Dalam satu kelas berisi 24–26 siswa, pembelajaran dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan usia dan kemampuan.
Miss Mina membimbing kelompok yang lebih muda atau yang masih membutuhkan adaptasi dasar, sementara guru lain menangani kelompok yang lebih banyak.
Pembelajaran dimulai dengan aktivitas menyenangkan, seperti menggambar, untuk membangun minat sebelum masuk ke materi inti.

Anak-anak yang belum fasih berbahasa Indonesia dibantu oleh teman sekelompoknya secara alami, dengan menciptakan suasana belajar yang inklusif.
Sistem individual memungkinkan setiap anak berkembang sesuai ritmenya.
Chart record digunakan sebagai panduan perkembangan belajar masing-masing siswa.
Asrama sebagai Ruang Pembentukan Karakter
Keunikan program ini terletak pada sistem asrama yang terintegrasi 24 jam.
Pendidikan tidak berhenti di ruang kelas.
Kegiatan sehari-hari seperti makan bersama, menjaga kebersihan, hingga ibadah menjadi bagian dari pembentukan karakter.
Pembina asrama berperan sebagai figur pengganti orang tua, mendampingi anak-anak dalam proses adaptasi dari kehidupan kampung menuju sistem sekolah berasrama.
Rata-rata anak membutuhkan waktu sekitar dua minggu untuk beradaptasi, termasuk menjadi lebih fasih berbahasa Indonesia bagi yang sebelumnya belum terbiasa.
Ruang untuk Bakat dan Kreativitas
Montessori SATP juga memberi ruang bagi anak-anak yang memiliki bakat khusus, seperti seni dan musik.
Program pengayaan disiapkan agar mereka bisa mengembangkan potensi tanpa tertekan oleh kewajiban akademik semata.
“Intinya, kita ingin menciptakan ekosistem di mana bakat individu dihargai dan dikembangkan. Anak-anak merasa nyaman mengeksplorasi minatnya, dan ada keseimbangan antara akademik, karakter, dan kreativitas,” jelas pihak pengelola program.
Tantangan dan Harapan
Kepala Sekolah SATP, Sonianto Kuddi, mengakui program ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari adaptasi budaya anak-anak yang sebelumnya hidup di pedesaan, perbedaan kemampuan dasar siswa, hingga pentingnya dukungan keluarga.
Namun harapan yang dibangun jauh lebih besar.
SATP ingin mencetak generasi Papua yang bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter kuat, mandiri, dan siap bersaing di tingkat nasional.
Anak-anak yang hari ini belajar mengenal warna, bentuk, dan angka dengan sabar itu, kelak diharapkan kembali membangun tanah kelahirannya, dengan pengetahuan, kepercayaan diri, dan jiwa yang utuh. (*)
Penulis : Yudith Sanggu
Editor : Maurits Sadipun
Jumlah Pengunjung: 49

19 hours ago
10

















































