MENGUNJUNGI – Tim Program dan Monitoring Evaluasi Bidang Ekonomi YPMAK yang dipimpin Deputi Perencanaan Program, Billy Korwa, saat mengunjungi UMKM milik Ny. Yufinia Beanal di Kwamki Baru, Timika, Jumat (13/2/2026). (FOTO: YUDITH SANGGU)
TIMIKA, timikaexpress.id – Deretan kios sederhana itu kini tak lagi sekadar bangunan baru di sudut-sudut kota Timika.
Di dalamnya, ada harapan yang mulai tumbuh, harapan tentang kemandirian, tentang keberanian memulai usaha, dan tentang masa depan ekonomi masyarakat adat yang perlahan diperkuat dari bawah.
Sebanyak delapan kios UMKM binaan Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) resmi beroperasi di sejumlah wilayah Timika.
Program ini menjadi langkah nyata mendorong kemandirian ekonomi Orang Asli Papua (OAP), khususnya masyarakat Amungme dan Kamoro.
Sebagai pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia, YPMAK terus memperkuat sektor usaha mikro melalui pendampingan terukur dan peningkatan kapasitas pelaku usaha lokal.
Di bawah kepemimpinan Ketua Pengurus, Dr. Leonardus Tumuka, pemberdayaan ekonomi tidak hanya berbicara tentang bantuan modal, tetapi juga tentang membangun mental usaha yang profesional dan berkelanjutan.
Dari Pendampingan hingga Omzet Harian
Tim Program dan Monitoring Evaluasi Bidang Ekonomi YPMAK yang dipimpin Deputi Perencanaan Program, Billy Korwa, turun langsung meninjau kios-kios binaan tersebut pada Sabtu (Jumat (13/2/2026).

Pemantauan dilakukan untuk memastikan usaha berjalan sesuai perencanaan dan target yang ditetapkan.
Hasilnya cukup menggembirakan.
Delapan kios kelontong milik pengusaha Amungme menunjukkan perkembangan positif.
Para pemilik usaha mengaku mampu meraih omzet harian rata-rata antara Rp700 ribu hingga Rp1,2 juta.
Bagi usaha yang baru dirintis, capaian ini menjadi sinyal awal bahwa langkah kecil yang konsisten bisa membuka jalan yang lebih besar.
“Program ini dimulai dari skala kecil agar pelaku usaha memiliki pengalaman, memahami manajemen, dan siap berkembang secara bertahap,” jelas Billy.
Bukan Sekadar Modal, Tapi Ilmu Mengelola Usaha
Program UMKM YPMAK sebelumnya telah berjalan melalui kerja sama dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI). Setelah evaluasi menyeluruh, YPMAK memperluas kemitraan dengan Bank Tabungan Negara (BTN) guna meningkatkan akses pembiayaan sekaligus memperkuat pendampingan manajemen usaha.
Sebelum kios dibuka, para pelaku UMKM terlebih dahulu mengikuti pelatihan manajemen usaha. Mereka belajar tentang pencatatan keuangan, pengelolaan stok barang, hingga pelayanan pelanggan, termasuk hal-hal mendasar yang sering menjadi tantangan dalam usaha kecil.
Setiap kios juga telah menggunakan sistem pembayaran digital QRIS, sebagai bagian dari upaya membangun transparansi serta mempermudah transaksi.
YPMAK bersama mitra seperti Institut Jambatan Bulan (IJB) dan CV Amungsa Gemilang turut memberikan pendampingan intensif agar usaha yang dirintis tidak berhenti di tahap awal, tetapi mampu naik kelas.
Menuju 20 Pelaku Usaha Mandiri
Dari total 20 pelaku usaha yang disiapkan dalam program ini, delapan kios telah resmi beroperasi. Sementara itu, sisanya masih dalam tahap penyelesaian infrastruktur dan pengadaan barang.

Seluruh kios ditargetkan beroperasi penuh pada akhir Februari hingga Maret 2026.
Tak hanya kios kelontong, program pemberdayaan ekonomi YPMAK juga merambah sektor lain seperti usaha laundry, rumah sagu, produksi tepung sagu, usaha kopi, cucian motor, hingga produksi Virgin Coconut Oil (VCO) yang kini masih dalam tahap persiapan.
Upaya ini diharapkan tidak hanya memperkuat ekonomi keluarga, tetapi juga membuka ruang bagi generasi muda Papua untuk melihat wirausaha sebagai pilihan masa depan yang menjanjikan.
Membangun Kepercayaan Diri
Bagi YPMAK, tujuan program ini lebih dari sekadar angka omzet.
“Kita ingin membuktikan bahwa masyarakat Amungme dan Kamoro mampu mengelola usaha secara profesional dan berkembang hingga ke tingkat usaha yang lebih besar. Dengan sistem yang baik dan pendampingan berkelanjutan, usaha Papua bisa maju dan berdaya saing,” ujar Billy.
Di balik setiap kios yang kini buka setiap pagi, ada proses belajar, keberanian mengambil risiko, dan semangat untuk berdiri di atas kaki sendiri.
Langkahnya mungkin kecil, tetapi maknanya besar, karena kemandirian ekonomi selalu dimulai dari satu pintu yang berani dibuka. (*)
Penulis : Yudith Sanggu / Sarah
Editor : Maurits Sadipun
Jumlah Pengunjung: 25

20 hours ago
9

















































