Manusia Tetap di Kemudi: Etika Penggunaan AI dalam Jurnalisme Hanya Alat Bantu

6 days ago 24
PEMATERI – Lucky Ireeuw (kanan), Pemimpin Redaksi Cenderawasih Pos, sebagai narasumber memaparkan topik tentang manfaat penggunaan AI, dengan moderator Misba Latuapo. (FOTO : DOK. PRIBADI)

TIMIKA, timikaexpress.id – Festival Media Papua Raya hari kedua, Rabu (14/1/2026) kembali menghadirkan talk show bertema “Manusia Tetap di Kemudi: Etika Penggunaan AI dalam Jurnalisme”.

Topik ini dibawakan oleh Lucky Ireeuw, Pemimpin Redaksi Cenderawasih Pos, sebagai narasumber, dengan moderator Misba Latuapo.

Mengawali pemaparannya, Lucky menekankan pentingnya kesepahaman mendasar tentang kecerdasan buatan (AI) sebelum teknologi ini digunakan lebih jauh dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk jurnalisme.

“Dalam setiap aspek kehidupan, manusia perlu menyepakati hal-hal mendasar terlebih dahulu,” ujar Lucky.

Menurutnya, teknologi termasuk AI, telah dimanfaatkan dalam kerja redaksi untuk menganalisis berita populer, membaca kecenderungan publik, serta mengembangkan isu sesuai kebutuhan pembaca di Papua, baik berdasarkan kelompok, sektor, skala nasional, maupun global. Dengan pendekatan berbasis data, redaksi tidak lagi sekadar menebak isu, melainkan mengembangkan topik yang memang relevan.

Dalam proses verifikasi, AI dapat membantu mendeteksi hoaks, memverifikasi informasi, mengidentifikasi video palsu, hingga menyaring komentar berbahaya.

Meski demikian, Lucky menegaskan bahwa AI harus dipahami sebagai alat bantu, bukan penentu utama dalam kerja jurnalistik.

“AI sangat membantu mempercepat riset data dan membaca tren. Namun, etika, akurasi, dan konteks tetap menjadi tanggung jawab manusia,” katanya.

Lucky juga menyoroti tantangan serius penggunaan AI, terutama bias algoritme.

AI bekerja berdasarkan data dan pola yang berulang, sehingga berpotensi memperkuat satu sudut pandang tertentu dan mengabaikan perspektif lain yang sama pentingnya.

Dalam konteks Papua, misalnya, percakapan publik terkait proyek strategis nasional bisa cenderung terlalu negatif atau sebaliknya terlalu positif.

Jika media hanya mengikuti tren algoritme, maka keberimbangan informasi dapat terancam.

Selain bias, tantangan lain yang perlu diantisipasi adalah risiko penyebaran berita palsu, minimnya transparansi sistem AI, serta ancaman terhadap privasi.

Kemampuan AI mengolah data dalam jumlah besar menuntut pengelolaan yang bertanggung jawab.

Karena itu, Lucky menegaskan prinsip utama penggunaan AI dalam jurnalisme, yakni akurasi, kebenaran informasi, transparansi, dan akuntabilitas manusia. Keputusan editorial dan tanggung jawab etis, tegasnya, tidak boleh diserahkan kepada mesin.

Ia juga menyinggung praktik media besar yang menggunakan algoritme untuk merekomendasikan berita sesuai minat pembaca.

Di satu sisi, sistem ini membuat pembaca lebih betah dan media lebih dekat dengan audiens. Namun di sisi lain, muncul risiko pembaca hanya terpapar satu sudut pandang serta kecenderungan media mengejar klik semata.

“Jika tidak dikendalikan, algoritme bisa menggeser fungsi media dari penyedia informasi berkualitas menjadi pemburu trafik,” ujarnya.

Pada akhirnya, Lucky menegaskan bahwa AI tidak memiliki mandat kebenaran. Mandat tersebut tetap berada di tangan manusia.

“AI hanyalah alat. Di tangan jurnalis yang beretika, teknologi ini dapat memperkuat jurnalisme, menjaga nilai demokrasi, kebenaran, independensi, integritas, dan kepercayaan publik,” pungkasnya. (vis)

Jumlah Pengunjung: 19

Read Entire Article
Sumut Bermartabat| Timika Hot | | |