Rosalina Rerek Sogen ‘Pahlawan Tanpa Jasa’ di Tanah Papua

4 days ago 17

DISEMAYAMKAN – Jenazah Rosalina dibawa ke Kantor Bupati Flores Timur sebelum akhirnya disemayamkan di kediamannya di Lewolema, Flores Timur-NTT (FOTO: ISTIMEWA/TIMEX)

FLORES TIMUR, TIMIKAEXPRESS.id – Suasana duka menyelimuti Bandara Gewayantana, Kabupaten Flores Timur, pada Selasa (25/3/2025), setibanya jenazah Rosalina Rerek Sogen, seorang guru yang menjadi korban kekerasan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Distrik Anggruk, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan.

Isak tangis pecah dari keluarga, kerabat, dan masyarakat yang hadir untuk menyambut kepulangan almarhumah di kampung halamannya.

Suasana haru dan sedih, ini menandakan betapa besar kehilangan yang dirasakan oleh orang-orang terdekatnya.

Bupati Flores Timur, Antonius Doni Dihen, bersama Wakil Bupati Ignasius Boli Uran, serta jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) turut hadir dalam prosesi penyambutan jenazah Rosalina.

Aparat TNI-Polri, serta perwakilan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) juga turut serta dengan mengenakan seragam cokelat khas mereka sebagai bentuk penghormatan kepada almarhumah.

Dari bandara, jenazah Rosalina diarak ke Kantor Bupati Flores Timur sebelum akhirnya disemayamkan di kediamannya di Lewolema, Flores Timur-Larantuka.

Iring-iringan kendaraan roda dua dan roda empat mengantar perjalanan terakhirnya dengan penuh rasa hormat, diiringi doa serta tangisan akan kehilangan sosok guru yang berdedikasi bagi dunia pendidikan hingga ajal menjemputnya di tanah Papua.

Bupati Antonius Doni Dihen saat menyampaikan sambutan saat jenazah almarhumah disemayamkan di depan Kantor Bupati, nampak tidak mampu menyembunyikan kesedihannya.

Dengan suara bergetar, ia menyebut Rosalina sebagai pahlawan kemanusiaan dan pahlawan pendidikan bagi murid-muridnya.

“Kami menerima jenazahnya secara resmi sebagai bentuk penghormatan karena Rosalina telah berjasa bagi daerah ini,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa meskipun kepergian Rosalina membawa duka mendalam, peristiwa ini juga mempererat solidaritas dan persaudaraan di antara masyarakat.

“Kita menerima Rosalina sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Kepergiannya meninggalkan luka mendalam, tetapi juga menyatukan kita dalam kebersamaan yang lebih erat,” ungkapnya.

Bupati Antonius turut menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Daerah Yahukimo dan Yayasan Serafim di Papua yang telah membantu proses pemulangan jenazah hingga tiba dengan selamat di Flores Timur.

Kepergian Rosalina Rerek Sogen meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, rekan kerja, serta dunia pendidikan di Flores Timur. Namun, jasa dan dedikasinya sebagai seorang pendidik akan selalu dikenang sebagai bagian dari perjuangan mencerdaskan anak bangsa.

Tuhan Tolong Kami

Insiden heroik yang menimpa guru dan Tenaga Kesehatan (Nakes) sebanyak delapan orang diklaim dilakukan oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) di Kabupaten Yahukimo.

Berikut kisah ceritera seorang guru, sebut saja Mas yang masih dirawat di RSUD Sentani.

Mas berkisah pada Jumat (21/3) pagi, ia bersama rekan-rekan guru lain melakukan aktivitas seperti biasa.

Mereka mengajar di Sekolah Dasar Yayasan Pendidikan Kristen (SD YPK) Distrik Anggruk, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan.

Usai mengajar, mereka kembali ke kompleks perumahan guru untuk beristirahat.

Sontak Mas tiba-tiba terbangun oleh suara teriakan dari luar komplek rumah guru tersebut.

Saat melirik ke luar, Mas melihat belasan orang menggunakan sebo penutup muka dengan menenteng senjata tajam sudah berada di depan rumah.

Seketika, belasan orang tidak dikenal melempari kaca rumah mereka (para guru-Red) hingga pecah.

Lantaran panik, Mas bersama para guru dan Nakes lalu mencoba keluar dari rumah untuk lari dan menyelematkan diri.

“Teman-teman guru ada yang keluar dari pintu depan, sedangkan saya keluar lewat pintu belakang,” kenang Mas.

Saat keluar dari rumah, beberapa pelaku langsung mengayunkan dan melempar parang panjang ke arahnya, namun Mas mampu menghindarinya.

“Tuhan tolong saya, mereka lempar parang tapi tidak kena,” ungkap Mas, guru yang mengabdi sejak 2023 di Yayasan Serafim Care.

Ia mengungkapkan secara total ada sembilan guru dari Yayasan Serafim Care yang mengajar di SD YPK Anggruk.

Hanya saja saat kejadian, seorang diantaranya tengah berada di Jayapura.

Dari jumlah itu, enam orang guru berasal dari luar Papua, dan dua guru orang asli Papua. Selain itu, juga ada dua Nakes di lokasi kejadian.

Lebih lanjut, setelah lolos dari lemparan parang, Mas pun terus berlari menuju ke dalam hutan.

Meski sempat diburu dua pelaku dari belakang, Mas berhasil bersembunyi.

Setelah berjam-jam di hutan, dan memastikan situasi aman, Mas pun kembali ke desa.

Saat itu, Mas mendapati beberapa bangunan sudah ludes dibakar.

“Mereka (pelaku-Red) punya rencana jahat untuk habisi kami, Tapi Tuhan tolong kami, meskipun ada teman kami yang terluka,” ungkapnya.

Adapun para korban aksi kekerasan KKB itu lalu dibawa ke pusat kesehatan untuk mendapatkan perawatan, sekaligus memastikan keamanan mereka.

Rosalina Tewas Saat Serangan Kedua

Bersama rekannya mereka melewati malam di rumah sakit dengan penuh rasa was-was, takut serangan kembali terjadi.

Pagi harinya, Mas dan rekannya lalu mengganti perban para korban yang terluka.

Saat mereka tengah beraktivitas, sekitar pukul 08.00 WIT, para pelaku kembali datang dan melancarkan serangan kedua.

“Saya perhatikan pelaku yang sama, kami pun harus lari, namun harus tutup pintu supaya jangan ada lagi yang jadi korban, apalagi kalau sampai meninggal,” katanya.

Para guru dan Nakes termasuk Rosalina pun keluar lewat pintu belakang untuk melarikan diri ke dalam hutan.

Sayangnya mereka tetap dikejar oleh para pelaku.

“Saat mereka kejar kita itu, kami lari berpencar, masing-masing dua orang, dan kami tidak bisa saling menolong karena pelaku pakai alat tajam,” terangnya.

Dalam pengejaran itu, lanjut Mas, seorang guru perempuan (Rosalina) tidak selamat dari serangan para pelaku.

“Ibu guru itu dua orang, tapi musuh yang kejar bagi jalan, sehingga langsung kepung dan langsung habisi Rosalina dengan senjata tajam,” kenangnya lirih.

Mas pun mengaku ketika itu ia terus berlari ke hutan untuk mencapai puncak gunung.

Setelah bertahan di dalam hutan sejak pukul 08.00 WIT, ia pun memilih kembali ke desa sekitar pukul 13.00 WIT, setelah  memastikan situasi mulai aman.

Bersama rekannya yang selamat, mereka lalu mengamankan diri dan membawa Rosalina ke pusat kesehatan.

“Waktu itu Vikaris [calon pendeta] dan mama-mama Papua yang jaga kami, mereka bawakan makanan dan minuman sampai kami dijemput,” terang Mas.

Meski nampak masih trauma atas serangan brutal KKB, Mas menegaskan bahwa dirinya dan rekan-rekan guru yang lain adalah warga sipil, dan tidak memiliki hubungan dengan aparat keamanan ataupun kelompok kepentingan lainnya.

“Kalau kami punya ijazah tidak dibakar, kami bisa kasih tunjuk dan pastikan bahwa kami ini guru, hanya mendidik,” harapnya kejadian ini tidak lagi menimpa para guru yang mengabdikan diri dan memberi pelayanan kemanusiaan di pedalaman Papua.

Untuk diketahui, selain melukai dan membunuh korban, para pelaku yang disebut berjumlah 15 orang itu juga membakar dua unit rumah dinas guru dan merusak tujuh ruang kelas sekolah.

Berdasarkan hasil olah TKP aparat keamanan di kompleks perumahan guru dan sekolah SD Advent Anggruk serta gedung RS Efata Anggruk juga dilaporkan aksi penyerangan itu terjadi selama dua hari, yaitu Jumat (21/3) dan Sabtu (22/3).

TPNPB-OPM Bertanggungjawab

Sementara itu, Juru Bicara (Jubir) TPNPB OPM Sebby Sambom mengklaim bahwa pihaknya bertanggung jawab atas insiden pembakaran dan pembunuhan di Distrik Anggruk.

Dia beralasan bahwa para guru dan nakes itu merupakan agen militer Indonesia. Alasan ini kerap digunakan OPM saat melakukan aksi kekerasan kepada para pendatang di pedalaman Papua.

“Karena semua itu bagian dari TNI-Polri. Semua tugas diambil alih mereka, termasuk guru dan kesehatan,” kata Sebby.

Untuk memperkuat klaim itu, Sebby mengutip pernyataan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto yang menyebut “sekarang di Papua yang mengajar itu anggota saya, TNI. Kemudian pelayanan kesehatan, anggota saya.”

Namun, Kapendam Cenderawasih Kolonel Candra Kurniawan membantah tudingan Sebby.

“Korbannya jelas adalah guru dan tenaga kesehatan, bukan anggota atau agen militer. Silahkan bisa dikonfirmasi ke semua pihak terkait,” kata Candra, Minggu (23/3).

Selain itu, Candra menyebut puluhan guru dan nakes di wilayah Anggruk dan sekitarnya, seperti Hereapini, Kosarek, Ubalihi, Nisikni, Walma, dan Kabianggama, telah dievakuasi pascaserangan itu. (*/)

Jumlah Pengunjung: 56

Read Entire Article
Sumut Bermartabat| Timika Hot | | |