Sofyan Hadi (FOTO:Gren Telaubun/TIMEX)
MIMIKA, timikaexpress.id – Di pesisir Pomako, tempat ombak datang silih berganti dan akses masih terbatas, harapan itu tumbuh perlahan, di ruang-ruang kelas sederhana, dari tangan seorang guru yang tak pernah berhenti percaya pada masa depan.
Selama 12 tahun, Sofyan Hadi mengabdikan dirinya sebagai pendidik di SD Negeri Pomako 1, Mimika.
Bagi banyak orang, wilayah ini mungkin jauh dari pusat perhatian.
Namun bagi Sofyan, di sinilah masa depan sedang dibentuk.
Ia bukan sekadar guru yang mengajar membaca dan berhitung.
Ia adalah jembatan antara keterbatasan dan harapan.
Di tengah minimnya sarana dan prasarana, Sofyan tetap berdiri di depan kelas, memastikan proses belajar mengajar terus berjalan.
Tak jarang, ia juga turun langsung ke masyarakat, berbicara dengan orang tua, meyakinkan mereka bahwa pendidikan adalah kunci untuk membuka jalan hidup yang lebih baik bagi anak-anak mereka.
“Kalau anak-anak ini tidak kita dorong sekarang, kapan lagi mereka punya kesempatan?” begitu kira-kira semangat yang ia bawa dalam setiap langkah pengabdiannya.
Perlahan, kehadirannya membawa perubahan.
Anak-anak yang dulunya ragu untuk sekolah mulai berani bermimpi.
Orang tua yang sebelumnya abai mulai memahami pentingnya pendidikan.
Namun bagi Sofyan, membangun Papua tidak hanya soal pendidikan.
Ia juga melihat pentingnya rasa aman sebagai fondasi kehidupan masyarakat.
Ia mengapresiasi pendekatan humanis yang dilakukan melalui personel Satuan Tugas (Satgas) Operasi Damai Cartenz 2026, yang tidak hanya menitikberatkan pada penegakan hukum, tetapi juga membangun kedekatan dengan masyarakat melalui kegiatan sosial, pelayanan kesehatan, dan patroli dialogis.
Baginya, kehadiran aparat yang humanis memberi ruang bagi masyarakat untuk merasa dilindungi, bukan ditakuti.
Di tengah berbagai tantangan, Sofyan tetap menyimpan keyakinan sederhana, bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil, dari ruang kelas, dari satu anak yang mau belajar, dari satu keluarga yang mulai peduli.
Ia pun mengajak masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya, serta bersama-sama menjaga kedamaian.
“Kalau kita ingin masa depan Papua lebih baik, kita harus mulai dari pendidikan dan menjaga keamanan bersama,” pesannya.
Di pesisir Pomako, kisah pengabdian itu terus berjalan.
Tanpa sorotan besar, tanpa panggung megah.
Hanya ada ketulusan, ketekunan, dan keyakinan bahwa pendidikan adalah cahaya, yang perlahan, tapi pasti, akan menerangi Papua. (*)
Penulis : Gren Telaubun
Editor : Maurits SDP
Jumlah Pengunjung: 36

2 hours ago
3

















































