PASKAH – Pastor Paroki Santo Stefanus Sempan-Timika, RP. Gabriel Ngga, OFM menyalakan lilin dalam perayaan Vigili Paskah di Gereja Santo Stefanus Sempan, Timika, Sabtu (4/4/2026) (FOTO:EUVRASIA/TIMEX)
TIMIKA, timikaexpress.id – Umat Katolik di Timika diajak menjadikan Papua sebagai “kubur kosong”, yakni meninggalkan kebencian dan menghadirkan kehidupan baru yang penuh damai, kasih, dan persaudaraan dalam perayaan Vigili Paskah 2026.
Perayaan Misa Malam Paskah di Gereja Santo Stefanus Sempan, Timika, Sabtu (4/4/2026), berlangsung khidmat dan penuh sukacita.
Ritus diawali dengan penyalaan api suci dan lilin Paskah sebagai simbol terang Kristus yang mengalahkan kegelapan.
Pastor Paroki Santo Stefanus Sempan, RP Gabriel Ngga, OFM, dalam homilinya menegaskan bahwa kegelapan melambangkan dosa, kerapuhan, keputusasaan, hingga maut.
Namun, terang Kristus yang dilambangkan melalui lilin Paskah menjadi tanda harapan yang memecahkan kegelapan tersebut.
“Sebagaimana nyala lilin dibagikan kepada umat, kita pun dipanggil menjadi terang bagi sesama,” ujarnya.
Makna “Kubur Kosong”
Pastor Gabriel menjelaskan, makna “kubur kosong” bukan sekadar simbol kebangkitan, melainkan ajakan untuk meninggalkan kebencian, dendam, dan konflik.
Menurutnya, Papua yang kaya akan sumber daya merupakan tanda kasih Tuhan.
Namun, berbagai persoalan seperti kerusakan lingkungan dan retaknya persaudaraan menjadi tantangan bersama.
“Paskah memanggil kita kembali pada rencana awal Allah, yakni menjaga kehidupan, bukan merusaknya,” katanya.
Ia juga menyinggung realitas kehidupan yang diwarnai rasa tidak aman, konflik berkepanjangan, serta kemiskinan di tengah kelimpahan.
Situasi tersebut diibaratkan sebagai “Firaun zaman ini” yang membelenggu kehidupan manusia.
Meski demikian, umat diajak tetap percaya bahwa Tuhan menuntun menuju “tanah terjanji”, yakni kehidupan yang adil, damai, dan sejahtera.
Hidup Baru dalam Kristus
Dalam perayaan tersebut, umat juga memperbarui janji baptis sebagai simbol hidup baru dalam Kristus.
Menurut Pastor Gabriel, menjadi manusia Paskah berarti meninggalkan egoisme, dendam, dan kebencian, serta hidup dalam kasih, keadilan, dan persaudaraan.
Umat juga diingatkan bahwa kebangkitan Kristus harus dihidupi dalam keseharian, tidak berhenti di dalam gereja.
“Kristus harus kita temukan dalam keluarga, tempat kerja, pasar, dan seluruh ruang kehidupan,” ujarnya.
Ajakan Misioner
Mengakhiri homilinya, Pastor Gabriel mengajak umat menjadi pembawa damai dan sukacita Paskah di tengah masyarakat.
Ia menegaskan, Timika dan Papua harus menjadi “kubur kosong”, tempat kebencian ditinggalkan dan lahir manusia-manusia baru sebagai saksi Kristus yang bangkit. (Maurits Sadipun)
Jumlah Pengunjung: 32

15 hours ago
8

















































