Satu Tahun Johanes Rettob–Emanuel Kemong Memimpin Mimika: Tenang, Tapi Menguatkan

10 hours ago 7
Gabriel Zezo (FOTO:DOK.PRIBADI)

TIMIKA, timikaexpress.id – Tidak semua kepemimpinan lahir dari situasi nyaman.

Sebagian justru ditempa oleh konflik, keterbatasan anggaran, dan tarik-menarik kepentingan.

Dalam konteks itu, satu tahun kepemimpinan Johanes Rettob dan Emanuel Kemong di Mimika, Papua Tengah memperlihatkan pendekatan berbeda: tenang, tetapi efektif meredam gejolak.

Sejak dilantik pada 25 Maret 2025 oleh Gubernur Papua Tengah, Meki Fritz Nawipa, keduanya menegaskan bahwa membangun daerah tidak harus dengan kegaduhan.

Ketenangan, ketegasan, dan konsistensi menjadi pijakan.

Menata Birokrasi, Mengubah Mentalitas

Salah satu fokus utama adalah pembenahan birokrasi.

Dengan pengalaman panjang di dalam sistem, Johanes Rettob memahami bahwa penataan ASN bukan sekadar rotasi jabatan, melainkan upaya mengembalikan fungsi pelayanan publik.

Langkah ini memunculkan pro dan kontra.

Namun pendekatan yang ditempuh tidak konfrontatif, melainkan melalui komunikasi, ketegasan terukur, dan kesabaran.

Tantangan terbesarnya bukan pada struktur, tetapi pada perubahan cara berpikir dan etos kerja aparatur.

Meredam Konflik, Menjaga Stabilitas

Dalam satu tahun terakhir, sejumlah persoalan krusial berhasil diredam, mulai dari konflik sosial di Kwamki Narama, sengketa tapal batas Kapiraya, hingga dinamika internal birokrasi.

Tidak semuanya selesai tuntas, tetapi arah penyelesaian jelas: menghindari konflik terbuka dan mengedepankan dialog.

Pendekatan ini penting bagi Mimika sebagai wilayah yang majemuk, di mana stabilitas sosial menjadi fondasi pembangunan.

Bekerja di Tengah Keterbatasan

Penurunan APBD dari sekitar Rp7,3 triliun menjadi Rp5,6 triliun pada 2026 menjadi ujian serius.

Namun kondisi itu tidak dijadikan alasan untuk berhenti bergerak.

Pemerintah daerah tetap menjalankan program prioritas yang langsung menyentuh masyarakat, seperti penguatan UMKM, Gerakan Pangan Murah, koperasi, hingga pengembangan pendidikan.

Di sinilah terlihat keberanian menentukan prioritas: tidak semua dikerjakan, tetapi yang penting benar-benar dirasakan.

Capaian Tanpa Gembar-gembor

Di tengah berbagai tantangan, sejumlah capaian tetap diraih.

Mimika kembali memperoleh opini WTP dari BPK RI untuk ke-10 kalinya, meraih UHC Award 2026, serta mencatat peningkatan pendapatan daerah dan penguatan tata kelola.

Menariknya, capaian ini tidak ditampilkan secara berlebihan.

Ia hadir sebagai hasil kerja, bukan sekadar narasi.

Menata Fondasi Jangka Panjang

Arah pembangunan yang ditempuh tidak berorientasi pada hasil instan, melainkan penataan fondasi, baik birokrasi, sosial, maupun ekonomi.

Pendekatan ini penting untuk memastikan keberlanjutan. Sebab, banyak daerah gagal bukan karena kekurangan anggaran, tetapi lemahnya sistem.

Membangun Kepercayaan

Perlahan, kepercayaan publik mulai tumbuh.

Bukan karena retorika, tetapi karena konsistensi kerja dan kedekatan dengan masyarakat.

Lebih jauh, kepemimpinan ini juga membawa pesan penting: memberi ruang bagi anak-anak asli daerah untuk tumbuh dan berperan sebagai tuan di tanah sendiri.

Ketenangan sebagai Kekuatan

Satu tahun tentu belum cukup untuk menilai segalanya.

Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Namun arah sudah terlihat.

Di Mimika, kepemimpinan tidak harus keras untuk kuat, dan tidak perlu gaduh untuk bekerja.

Cukup dengan keteguhan, kesabaran, dan komitmen pada rakyat.

Karena pada akhirnya, pembangunan bukan hanya soal apa yang dibangun, tetapi bagaimana dan untuk siapa itu dilakukan.

Mimika hari ini sedang menapaki jalan itu dalam ketenangan yang justru menguatkan. (*)

(Penulis: Gabriel Zezo, Ketua Flobamora Mimika)

Jumlah Pengunjung: 95

Read Entire Article
Sumut Bermartabat| Timika Hot | | |