Jumat Agung di Katedral Tiga Raja Timika, Umat Diajak Maknai Sengsara sebagai Kasih

4 hours ago 3
CIUM SALIB – Umat mengikuti prosesi penciuman salib dalam perayaan Jumat Agung di Gereja Katedral Tiga Raja Timika, Jumat (3/4/2026).(FOTO: GREN/TIMEX)

TIMIKA, timikaexpress.id – Ribuan umat Katolik mengikuti perayaan Jumat Agung di Gereja Katedral Tiga Raja Timika, Jumat (3/4/2026), dalam suasana khidmat meski diguyur hujan lebat.

Perayaan Jumat Agung menjadi momentum bagi umat untuk mengenang sengsara dan wafat Yesus Kristus di kayu salib.

Suasana hening dan penuh penghayatan tampak menyelimuti seluruh rangkaian ibadah.

Liturgi dihiasi warna ungu yang melambangkan dukacita atas wafat Sang Juru Selamat. Umat mengikuti ibadah dari awal hingga prosesi penciuman salib dengan penuh khidmat.

Dalam homilinya, Pastor Benyamin Magai mengajak umat merenungkan makna penderitaan Kristus sebagaimana dikisahkan dalam Injil Yohanes.

Ia menegaskan, kisah sengsara bukan sekadar narasi duka, melainkan wujud kasih dan pengorbanan bagi keselamatan manusia.

“Kita mungkin berduka saat mendengar kisah sengsara Yesus. Namun di balik itu terdapat makna besar tentang kasih dan pengorbanan demi keselamatan,” ujarnya.

Pastor Benyamin mengatakan, sejak manusia jatuh dalam dosa, kehidupan kerap diwarnai konflik dan perpecahan, baik dalam lingkup pribadi maupun kehidupan sosial.

Menurutnya, kehadiran Yesus membawa perubahan, meski pada masanya juga dianggap sebagai ancaman hingga berujung pada penyaliban.

“Bagi yang tidak percaya, Yesus dianggap pemberontak. Namun bagi umat beriman, salib adalah lambang kemenangan dan kekuatan,” katanya.

Ia juga mengaitkan kisah sengsara Kristus dengan kondisi saat ini, termasuk situasi di Papua yang masih diwarnai berbagai persoalan.

“Banyak korban berjatuhan dan konflik masih terjadi. Ini menjadi refleksi, apakah kita semakin dekat dengan rekonsiliasi atau justru sebaliknya,” ujarnya.

Ia mengajak umat menjadikan momentum Paskah sebagai waktu pertobatan dan refleksi diri, serta menjadi pembawa damai dalam kehidupan sehari-hari.

Usai homili, ibadah dilanjutkan dengan prosesi penciuman salib.

Umat maju secara bergantian untuk mencium atau menhormati salib sebagai ungkapan kasih kepada Kristus. (*)

Penulis : Gren Telaubun

Editor   : Maurits Sadipun

Jumlah Pengunjung: 38

Read Entire Article
Sumut Bermartabat| Timika Hot | | |