Antonius Welerubun (FOTO:DOK.TIMEX)
TIMIKA, timikaexpress.id — Guru Maria Elisabeth Mere yang bertugas di wilayah Hoya, Distrik Jila, Kabupaten Mimika, berhasil dievakuasi menggunakan helikopter dalam kondisi darurat, Jumat (27/3/2026).
Saat ini guru Elisabeth sudah dalam penanganan tim medis di RSUD Mimika.
Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kabupaten Mimika, Antonius Welerubun, mengatakan proses evakuasi guru Elisabeth Mere berlangsung sejak pagi dan tiba di heliped Timika sekitar pukul 08.00 WIT.
“Sekitar 30 menit lalu mereka sudah tiba di Timika dari Hoya dan sekarang sedang menuju rumah sakit,” ujarnya saat dikonfirmasi Timika eXpress via ponselnya, Kamis (26/3/2026).
Ia menjelaskan, evakuasi menggunakan helikopter dipilih untuk mempercepat penanganan mengingat kondisi geografis wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Meski demikian, pihaknya belum memastikan secara detail kondisi guru tersebut.
Namun, penanganan medis telah disiapkan setibanya di Timika.
“Saya belum cek kondisi di lapangan, tapi yang jelas guru yang menderita sakut sudah ditangani tim medis RSUD Mimika,” katanya.
Antonius menegaskan, Dinas Pendidikan memiliki tanggung jawab penuh terhadap keselamatan para tenaga pendidik, terutama dalam situasi darurat.
“Setiap guru dan kepala sekolah merupakan tanggung jawab kami. Dalam kondisi seperti ini, kami harus turun tangan,” tegasnya.
Ia menambahkan, pihaknya terus berkoordinasi dengan berbagai instansi terkait, termasuk Dinas Perhubungan, guna memastikan proses evakuasi berjalan cepat dan terintegrasi.
Sempat Terkendala Cuaca
Sebelumnya, upaya evakuasi terhadap salah satu guru SDI Hoya telah dilakukan sejak Rabu (25/3/2026), namun sempat tertunda akibat kondisi cuaca yang tidak mendukung penerbangan.
Guru bernama Maria Elisabeth Mete dilaporkan mengalami sakit serius dan telah berada di bandara Distrik Hoya sejak pagi untuk menunggu proses evakuasi.
“Upaya evakuasi sudah dilakukan, tetapi terkendala cuaca. Jalur penerbangan belum terbuka,” ujar Antonius.
Ia menyebut, berdasarkan informasi dari keluarga, korban mengalami pendarahan. Namun kondisi pasti belum dapat dipastikan karena keterbatasan tenaga medis di lokasi.
“Di sana tidak ada tenaga medis, sehingga informasi yang kami terima masih terbatas,” katanya.
Setelah cuaca membaik, evakuasi akhirnya dapat dilakukan dengan menggunakan helikopter agar penanganan medis bisa segera diberikan di Timika.
Antonius berharap ke depan tidak terjadi lagi kondisi darurat yang membahayakan tenaga pendidik, khususnya yang bertugas di wilayah terpencil.
“Kami berharap kejadian seperti ini tidak terulang, terutama bagi guru yang bertugas di daerah terpencil,” ujarnya. (vis)
Jumlah Pengunjung: 82

20 hours ago
11
















































