Lahir dari kolaborasi lintas sektor, Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) Timika mencatatkan diri sebagai pionir rumah sakit terakreditasi di Tanah Papua.
Penulis : Yeremias Imbiri – Kepala Divisi Humas YPMAK (Bagian – 1)
TIMIKA,timikaexpress.id — Di sebuah wilayah yang dulu identik dengan keterbatasan akses layanan kesehatan, harapan itu perlahan tumbuh.
Di Mimika, Papua Tengah, harapan itu bernama Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM), sebuah institusi yang lahir dari kolaborasi, dan bertahan oleh semangat kemanusiaan.
Kehadiran fasilitas kesehatan yang mumpuni, merupakan hak dasar yang seringkali menjadi tantangan.
Jejak pemenuhan hak tersebut terekam jelas dalam perjalanan panjang, Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) yang telah melayani orang Papua dan saudara-saudari lainnya di Kabupaten Mimika, lebih dari dua dekade.
Lebih dari dua dekade lalu, kebutuhan akan layanan kesehatan yang layak bagi masyarakat asli Amungme dan Kamoro menjadi kegelisahan bersama.
Dari kegelisahan itu, lahirlah sebuah terobosan: sinergi empat pilar, yaitu PT Freeport Indonesia, Lembaga Pengembangan Masyarakat Irian Jaya (LPMI) institusi pengelola Dana Kemitraan saat itu), Pemerintah Kabupaten Mimika, dan Gereja Katolik Keuskupan Jayapura.
Kesepakatan itu resmi dituangkan dalam nota kesepahaman pada 8 April 1999.
Dalam waktu singkat, gagasan berubah menjadi kenyataan.
Pembangunan RSMM dimulai dengan peletakan batu pertama pada 4 Februari 1999, dan hanya dalam hitungan bulan, rumah sakit ini mulai beroperasi pada 20 Agustus 1999.
Di balik percepatan pembangunan itu, tersimpan kisah pengabdian lintas daerah dan iman.
Misi dari Palembang
Jejak pelayanan RSMM tidak bisa dilepaskan dari peran Kongregasi Suster Santo Fransiskus Charitas (FCh).
Pada awal 1997, Uskup Jayapura saat itu, Mgr. Leo Laba Ladjar OFM, melakukan perjalanan ke Palembang untuk meminta bantuan pengelolaan pelayanan kesehatan di Papua.
Setahun kemudian, dua suster dari Charitas tiba di Timika untuk melihat langsung kondisi di lapangan.
Dari sana, lahir keputusan penting: para suster akan menjadi garda terdepan dalam pengelolaan RSMM.
Di masa awal operasional, keterbatasan menjadi bagian dari keseharian.
“Pada bulan pertama, maksimal melayani 10 pasien rawat jalan per hari dengan kapasitas 69 tempat tidur,” kenang dr. Joseph Lukman Oyong, direktur pertama RSMM.
Namun dari keterbatasan itu, RSMM justru tumbuh, pelan tapi pasti, menjadi salah satu pilar layanan kesehatan di Tanah Papua.
Dari Keterbatasan Menuju Pengakuan
Seiring waktu, kapasitas RSMM meningkat dari 69 menjadi 128 tempat tidur.
Konsistensi pelayanan membawa RSMM meraih penghargaan Parakarya Dharmartha Husada pada 2012, sekaligus mencatat sejarah sebagai rumah sakit pertama di Papua yang lulus akreditasi.
Namun, di balik pencapaian tersebut, tantangan baru mulai muncul.
Memasuki usia lebih dari 20 tahun, RSMM menghadapi fase yang tidak ringan, fase yang sering disebut sebagai “tiga padat”: padat karya, padat biaya, dan padat masalah.
Beban pelayanan meningkat, ekspektasi masyarakat semakin tinggi, dan sistem kesehatan nasional terus berubah.
Lalu, bagaimana RSMM bertahan di tengah tekanan tersebut?
Jawabannya mulai terlihat dalam langkah transformasi besar yang kini sedang disiapkan. (Bersambung)
Jumlah Pengunjung: 40

4 hours ago
4

















































