Dari Sawah ke Masa Depan: Kisah Petani Malind yang Biayai Anak Hingga Jadi Kowad

14 hours ago 9
Robi Basik-basik (FOTO:ISTIMEWA)

MERAUKE, timikaexpress.id – Di tengah hamparan sawah Kampung SP 3, Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, berdiri sebuah rumah yang menjadi simbol perubahan hidup seorang petani Orang Asli Papua (OAP).

Rumah itu dibangun dari hasil keringat dan ketekunan Robi Basik-basik, petani asal Suku Malind yang memilih menjadikan pertanian sebagai jalan menuju kesejahteraan.

Bagi Robi, sawah bukan sekadar lahan produksi. Dari sanalah ia membangun kehidupan keluarga, membiayai pendidikan anak-anaknya, hingga mengantarkan salah satu anaknya menjadi prajurit Komando Wanita Angkatan Darat (Kowad), sementara yang lainnya berkarier di bidang kesehatan.

“Saya bisa bangun rumah sendiri dan menyekolahkan anak-anak sampai berhasil karena bertani. Semua yang saya miliki sekarang berasal dari sawah,” ujar Robi saat ditemui di lahan pertaniannya, Sabtu.

Sebagai pemilik hak ulayat, Robi sebenarnya memiliki pilihan untuk hanya mengandalkan hasil pemanfaatan tanah adat.

Namun ia memilih jalan berbeda: turun langsung mengolah lahannya sendiri.

“Saya pemilik dusun, tetapi saya tidak mau hanya berharap dari tanah adat. Saya harus bekerja dan mengelola lahan sendiri supaya ada hasil yang bisa dinikmati keluarga,” katanya.

Keputusan tersebut menjadi titik balik kehidupannya.

Di saat sebagian masyarakat masih memandang pertanian sebagai pekerjaan yang berat dan penuh risiko, Robi justru melihat sektor ini sebagai peluang untuk membangun masa depan.

Perjalanan Robi semakin berkembang setelah mendapat pendampingan dari Pemerintah Kabupaten Merauke melalui Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHBUN).

Momentum kunjungan Menteri Pertanian beberapa waktu lalu menjadi salah satu pemicu meningkatnya semangat para petani OAP untuk terlibat aktif dalam program pengembangan pertanian.

Dukungan pemerintah berupa alat dan mesin pertanian (alsintan), benih, pupuk, hingga pendampingan teknis dinilai telah membuka peluang yang lebih besar bagi masyarakat adat untuk terlibat dalam sektor pertanian modern.

“Kalau pemerintah terus mendampingi, saya yakin semakin banyak orang Malind yang mau bertani. Pertanian bisa mengubah kehidupan masyarakat menjadi lebih baik,” ujarnya.

Pada Program Cetak Sawah Rakyat (CSR) Tahun 2025, Robi bersama kelompok taninya mengelola lahan seluas 37 hektare.

Dari luasan tersebut, sekitar 8 hektare telah memasuki masa panen, sementara sisanya masih dalam tahap pertumbuhan dan pembentukan bulir padi.

Menurut Robi, hasil yang diperoleh sejauh ini cukup menjanjikan.

Namun demikian, ia berharap adanya peningkatan kualitas bantuan benih yang diberikan pemerintah agar produktivitas pertanian dapat lebih optimal.

Ia mengusulkan agar varietas benih yang digunakan dapat disesuaikan dengan kondisi lahan dan iklim di Merauke sehingga hasil panen yang diperoleh petani semakin maksimal.

Kisah Robi menjadi gambaran bahwa pertanian tidak hanya berperan sebagai sektor penyedia pangan, tetapi juga mampu menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat adat Papua.

Di tengah berbagai tantangan pembangunan, sektor pertanian terbukti membuka ruang bagi OAP untuk meningkatkan pendapatan, memperkuat ketahanan keluarga, dan menciptakan generasi yang lebih berpendidikan.

Bagi Robi, keberhasilan yang diraihnya hari ini bukanlah akhir perjalanan.

Ia ingin pengalaman yang dialaminya menjadi inspirasi bagi generasi muda Papua untuk tidak ragu mengelola tanah mereka sendiri.

“Tanah sudah ada, tinggal bagaimana kita mau bekerja. Kalau dikelola dengan baik, hasilnya bisa mengubah kehidupan keluarga dan masa depan anak-anak kita,” pungkasnya. (*)

Jumlah Pengunjung: 117

Read Entire Article
Sumut Bermartabat| Timika Hot | | |