Keuskupan Timika dan Freeport Satukan Langkah, Wujudkan Kebangkitan Pendidikan Papua

10 hours ago 7

MIMIKA, timikaexpress.id – Komitmen membangun sumber daya manusia Papua melalui sektor pendidikan terus diperkuat.

Keuskupan Timika bersama PT Freeport Indonesia (PTFI) kini menyatukan langkah untuk menindaklanjuti berbagai rekomendasi yang dihasilkan dalam Lokakarya Pendidikan Dasar dan Menengah Keuskupan Timika yang digelar pada pertengahan April 2026 lalu.

Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan evaluasi dan tindak lanjut hasil lokakarya yang berlangsung di Aula Transit Bobaigo, Timika, Kamis (11/6/2026).

Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk memastikan berbagai gagasan dan rekomendasi pendidikan tidak berhenti sebagai dokumen, tetapi diwujudkan dalam program nyata yang berdampak langsung bagi generasi muda Papua.

Uskup Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, menegaskan bahwa pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun masa depan Papua.

Karena itu, hasil lokakarya harus diterjemahkan menjadi langkah konkret yang mampu menjawab berbagai tantangan pendidikan yang masih dihadapi masyarakat.

“Kita tidak ingin hasil lokakarya hanya menjadi arsip. Semua rekomendasi harus ditindaklanjuti agar benar-benar memberi manfaat bagi anak-anak Papua yang membutuhkan akses pendidikan yang lebih baik,” ujar Uskup Bernardus.

Sebagai bentuk keseriusan, Keuskupan Timika telah membentuk tim khusus (task force) yang bertugas mengawal implementasi seluruh rekomendasi lokakarya.

Tim tersebut akan menjadi penghubung antara Keuskupan, pemerintah, lembaga pendidikan, PT Freeport Indonesia, YPMAK, serta berbagai mitra pembangunan lainnya.

Salah satu program prioritas yang akan segera dijalankan adalah pengembangan beasiswa pendidikan bagi putra-putri Papua.

Namun beasiswa yang dirancang tidak hanya berorientasi pada bantuan biaya pendidikan, melainkan juga pendampingan akademik, pembinaan karakter, dan penguatan kapasitas penerima manfaat.

“Kami ingin memastikan anak-anak yang menerima beasiswa dapat menyelesaikan pendidikan dengan baik dan kelak kembali membangun daerahnya,” katanya.

Selain program beasiswa, Keuskupan Timika juga menyiapkan pengembangan pusat-pusat pendidikan berasrama di sejumlah wilayah strategis seperti Ilaga, Kokonao, Wagete, dan Nabire.

Model pendidikan berasrama dinilai menjadi salah satu solusi untuk mengatasi keterbatasan akses pendidikan yang masih dihadapi anak-anak Papua di daerah pedalaman dan terpencil.

Menurut Uskup Bernardus, sekolah-sekolah Katolik juga harus menjadi pusat pembentukan karakter yang menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, serta kepemimpinan bagi generasi muda Papua.

“Disiplin, komitmen, dan pendidikan karakter harus menjadi kekuatan sekolah-sekolah Katolik. Ini momentum bagi kita untuk membangkitkan kembali pendidikan Katolik di Tanah Papua,” tegasnya.

Sementara itu, Manager Tata Kelola dan Kepatuhan Program Sosial PT Freeport Indonesia, Resa Sofian, menyatakan bahwa pendidikan merupakan salah satu fokus utama program pengembangan masyarakat yang selama ini dijalankan perusahaan.

Menurutnya, pembangunan Papua tidak hanya diukur dari kemajuan infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga dari kualitas sumber daya manusianya.

Karena itu, Freeport menyambut baik berbagai rekomendasi yang dihasilkan dalam lokakarya pendidikan tersebut.

“Kami merasa perlu berkolaborasi dengan semua pemangku kepentingan, khususnya Keuskupan Timika, agar pengembangan pendidikan berjalan searah dan memberikan manfaat yang maksimal bagi masyarakat,” ujarnya.

Resa menjelaskan bahwa PT Freeport Indonesia siap mendiskusikan berbagai bentuk dukungan konkret terhadap program-program prioritas yang telah dirumuskan, mulai dari pengembangan beasiswa, penguatan pendidikan dasar, hingga peningkatan kualitas pendidikan di wilayah pelayanan Keuskupan Timika.

Sementara Ketua Panitia Lokakarya Pendidikan Keuskupan Timika, Pastor Johanes Sudrijanta, SJ, mengatakan bahwa lokakarya yang mengangkat tema “Membangun Kembali Pendidikan Katolik di Tanah Papua: Menemukan Terobosan di Tengah Krisis” telah menghasilkan berbagai rekomendasi strategis untuk memperkuat pendidikan di Papua.

Kini, kata Pastor Johanes, fokus utama adalah memastikan seluruh rekomendasi tersebut dapat diwujudkan melalui kerja sama lintas sektor.

“Kami melihat adanya semangat kolaborasi yang sangat baik antara Keuskupan, pemerintah, dan PT Freeport Indonesia. Saat ini yang dibutuhkan adalah langkah konkret agar berbagai program yang telah dirancang dapat segera berjalan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa penguatan Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) juga menjadi bagian penting dari agenda pembenahan pendidikan di wilayah Keuskupan Timika.

Kolaborasi antara Keuskupan Timika, PT Freeport Indonesia, pemerintah daerah, YPMAK, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya diharapkan mampu menjadi motor penggerak kebangkitan pendidikan Papua.

Melalui sinergi tersebut, pendidikan tidak hanya menjadi sarana mencetak generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga membentuk karakter, kepemimpinan, dan kemandirian generasi muda Papua untuk menghadapi tantangan masa depan.

Dengan semangat kebersamaan dan komitmen yang kuat, Keuskupan Timika dan Freeport Indonesia optimistis kebangkitan pendidikan Papua dapat terwujud, dimulai dari langkah-langkah nyata yang sedang dibangun hari ini. (*/Jimi Rahadat)

Jumlah Pengunjung: 104

Read Entire Article
Sumut Bermartabat| Timika Hot | | |