MIMIKA, timikaexpress.id — Kabar tewasnya tiga ASN Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, mendapat perhatian dari masyarakat asal Nusa Tenggara Timur (NTT).
Salah satunya Onesimus Puling yang meminta pemerintah memperkuat perlindungan bagi para abdi negara yang bertugas di wilayah rawan konflik.
Melalui surat terbuka yang ditujukan kepada Pemerintah Republik Indonesia, Onesimus menyampaikan keprihatinannya atas meninggalnya tiga ASN dalam penembakan di Kabupaten Jayawijaya, Rabu (9/9/2026).
Salah satu korban, Willi Mbuik (24), disebut merupakan anak muda asal Rote, NTT.
Dalam suratnya, Onesimus mengatakan Willi datang ke Papua bukan untuk berperang, melainkan untuk bekerja dan mengabdikan diri.
“Ia berangkat ke Papua bukan untuk berperang. Ia berangkat untuk bekerja. Ia adalah seorang anak muda yang sedang membangun masa depan dan mengabdikan dirinya untuk negara,” tulis Onesimus.
Menurut dia, peristiwa tersebut kembali menimbulkan pertanyaan mengenai perlindungan terhadap ASN dan pekerja yang ditugaskan di daerah rawan konflik.
“Sampai kapan anak-anak bangsa yang ditugaskan ke daerah rawan harus pergi bekerja dengan ketakutan bahwa mereka mungkin tidak akan pernah kembali?” tulisnya.
Onesimus mengakui persoalan keamanan di Papua memiliki sejarah dan kompleksitas yang panjang.
Namun, menurut dia, negara tetap memiliki tanggung jawab untuk melindungi setiap warga negara yang menjalankan tugas.
“Setiap nyawa warga negara adalah tanggung jawab negara,” tegasnya.
Ia meminta pemerintah memastikan setiap penempatan pegawai di wilayah rawan didukung pemetaan risiko, sistem pengamanan, jalur evakuasi, komunikasi darurat, serta prosedur perlindungan yang dapat berjalan efektif di lapangan.
Selain aspek keamanan, Onesimus juga mendorong pemerintah terus mencari penyelesaian konflik secara berkelanjutan.
Menurut dia, penyelesaian konflik tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan keamanan dan penegakan hukum, tetapi juga membutuhkan dialog, pembangunan yang adil, pelayanan publik, pendidikan, kesehatan, serta kesempatan ekonomi.
“Kalau konflik terus berlangsung, yang menjadi korban bukan hanya aparat. Masyarakat sipil juga akan terus menjadi korban,” tulisnya.
Onesimus mengatakan surat tersebut tidak dimaksudkan untuk menyalahkan pemerintah.
Ia berharap negara hadir lebih kuat untuk melindungi masyarakat yang menjalankan tugas di daerah rawan.
“Saya menulis sebagai seorang anak Nusa Tenggara Timur yang merasa kehilangan ketika mendengar seorang anak daerah kami, Willi Mbuik, harus mengakhiri hidupnya di tanah Papua ketika sedang menjalankan tugas,” tulisnya.
Ia juga menyampaikan duka kepada keluarga tiga korban, yakni Willi Mbuik, Aprida Rapi, dan drh. Alfonsius Albinus Mehan.
“Besok jangan sampai ada keluarga lain yang mengalami hal yang sama,” tulis Onesimus.
Ia berharap anak-anak bangsa yang ditugaskan ke berbagai pelosok negeri dapat bekerja dengan aman dan kembali kepada keluarganya dalam keadaan selamat.
“Kami ingin mereka pulang membawa cerita tentang pengabdian, bukan pulang dalam peti jenazah,” tulisnya.
Onesimus menutup surat terbukanya dengan meminta pemerintah tidak melihat korban hanya sebagai angka statistik.
“Di balik setiap nama korban, ada sebuah keluarga yang kehilangan dunia mereka,” tulisnya. (*)
Jumlah Pengunjung: 156

8 hours ago
5

















































