Tiga Taruna Kamoro dan Mimpi Besar dari Timur Indonesia Menjemput Masa Depan

12 hours ago 12
FOTO BERSAMA – Tiga taruna asal Suku Kamoro, Modestus Arpikini, Bernadus Natani, dan Merik Kuepe, foto bersama Wakil Direktur III PKP Sidoarjo Yus Isnainita Wahyu, Pembimbing Akademik Ahmad Jibril, pelatih pencak silat Rudi Hidayat, seusai zoom meeting yang digelar Divisi Humas YPMAK bersama media mitra di Gedung YPMAK, Senin (25/5/2026). (FOTO:YUDITH/TIMEX)

MIMIKA, timikaexpress.id – Perjalanan itu dimulai dari kampung-kampung pesisir di Mimika. Dari Akar, Tapormai, hingga Pigapu.

Tiga anak muda Suku Kamoro meninggalkan tanah kelahiran mereka untuk menempuh pendidikan di Politeknik Kelautan dan Perikanan (PKP) Sidoarjo, Jawa Timur, sebuah perguruan tinggi kedinasan di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Bagi Modestus Arpikini, Bernadus Natani, dan Merik Kuepe, perjalanan menuju dunia baru itu bukan sekadar perpindahan tempat belajar.

Mereka harus melewati adaptasi budaya, disiplin ketat, hingga tekanan mental sebagai anak-anak Papua yang hidup jauh dari keluarga dan lingkungan asal.

Kisah mereka terungkap dalam kegiatan Zoom Meeting yang digelar Divisi Humas YPMAK bersama media di Gedung YPMAK, Senin (25/5/2026).

Dalam forum itu hadir Wakil Direktur III PKP Sidoarjo Yus Isnainita Wahyu, Pembimbing Akademik Ahmad Jibril, pelatih pencak silat Rudi Hidayat, serta ketiga taruna asal Kamoro tersebut.

“Kami merupakan pendidikan tinggi di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jadi ini adalah sekolah kedinasan di bawah kementerian tersebut,” ujar Yus.

Datang dengan Rasa Takut dan Asing

Perjalanan menuju Sidoarjo menjadi pengalaman pertama yang tidak mudah bagi ketiganya.

Mereka harus terbang meninggalkan Papua, transit di Makassar, lalu tiba di kampus saat malam hari.

Di tempat baru itu, semuanya terasa asing.
Mereka tinggal sementara di rumah dinas dekat kampus sebelum resmi menjalani kehidupan sebagai taruna.

Rutinitas yang dijalani sangat berbeda dengan kehidupan di kampung halaman.

Bangun pukul tiga pagi, latihan fisik, disiplin ketat, hingga tradisi mencukur rambut menjadi pengalaman yang mengejutkan.

“Awalnya kami pikir seperti masuk sekolah militer,” ungkap salah satu taruna sambil tersenyum.

Perbedaan budaya juga menjadi tantangan tersendiri.

Cara bicara teman-teman dari daerah lain sempat membuat mereka bingung.

Istilah seperti “gue” dan “lo” terdengar asing di telinga mereka yang tumbuh dengan budaya Kamoro dan bahasa Papua sehari-hari.

Namun perlahan, mereka mulai memahami bahwa perbedaan itu adalah bagian dari keberagaman Indonesia.

Persaudaraan di Tanah Rantau

Di tengah proses adaptasi, keberadaan senior asal Papua menjadi penolong pertama bagi mereka.

Para senior membantu mengenalkan lingkungan kampus, aturan asrama, hingga cara bertahan dalam ritme pendidikan taruna yang keras.

Hubungan senior dan junior di kampus tidak hanya soal disiplin, tetapi juga rasa saling menjaga.

“Senior-senior banyak membantu kami supaya tidak merasa sendiri,” kata mereka.

Seiring waktu, rasa canggung mulai hilang. Mereka mulai aktif dalam kegiatan kampus, baik akademik maupun nonakademik.

Selain belajar di kelas, para taruna juga mengikuti kegiatan sosial kemanusiaan di Sumatera Utara selama satu bulan.

Pengalaman itu membuka cara pandang baru tentang kehidupan masyarakat di luar Papua.

Di bidang seni dan budaya, mereka ikut memperkenalkan identitas Papua melalui tarian tradisional Seka yang pernah ditampilkan dalam acara resmi kampus di Jakarta.

Bagi mereka, tampil membawa budaya sendiri bukan hanya soal pertunjukan, tetapi juga bentuk kebanggaan sebagai anak Kamoro.

Mimpi yang Dibawa dari Kampung

Di balik perjuangan mereka, tersimpan mimpi besar yang terus dijaga.

Modestus ingin menguasai bahasa Jepang agar suatu hari bisa bekerja di negeri Sakura.

Bernadus bercita-cita menjadi aparatur pemerintahan.

Sementara Merik ingin menjadi pengusaha sukses.

Mimpi-mimpi itu lahir dari kampung sederhana di Mimika, tetapi tumbuh besar di tengah perjuangan mereka merantau.

Merik mengatakan, anak-anak Kamoro tidak boleh takut bermimpi besar meski berasal dari daerah terpencil.

“Cita-cita itu seperti semut; jalannya pelan tapi pasti sampai ke tujuannya. Jadi jangan menyerah, tetap berjuang, dan jangan lupa berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,” ujarnya.

Membawa Harapan untuk Papua

Pendidikan di Politeknik Kelautan dan Perikanan bukan hanya memberi mereka ilmu dan keterampilan.

Lebih dari itu, pendidikan membentuk karakter, disiplin, dan rasa percaya diri bahwa anak-anak Papua mampu bersaing di tingkat nasional.

Di bawah bimbingan para pembina lapangan seperti Wahyu, Widhi, Ahmad, dan Donatus, para taruna terus diarahkan untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik.

Mereka berharap suatu hari bisa kembali ke Mimika membawa pengalaman dan pengetahuan untuk membangun daerahnya sendiri.

Di tengah berbagai keterbatasan yang masih dihadapi anak-anak pedalaman Papua, kisah tiga taruna Kamoro ini menjadi gambaran bahwa kesempatan pendidikan mampu membuka jalan menuju masa depan yang lebih luas.

Dari kampung kecil di pesisir Mimika, mereka sedang belajar menjemput mimpi, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk tanah kelahiran mereka di Papua. (*)

Penulis: Yudith Sanggu
Editor: Maurits SDP

Jumlah Pengunjung: 106

Read Entire Article
Sumut Bermartabat| Timika Hot | | |