SIKKA, timikaexpress.id – “Mama, saya mau pulang bulan 12 ini. Saya kerja kumpul uang dulu.”
Kalimat itu disampaikan drh. Alfonsius Albinus Mehan kepada ibunya, Maria Sukarti Yam, dalam percakapan terakhir mereka via ponsel antara Maumere dan Jayawijaya.
Bagi Maria, ucapan sederhana itu kini menjadi kenangan yang tak akan pernah dilupakan.
Apong….Apong, demikian panggilan sayang sang ibu meratap peti jenasah putranya dengan tangis yang tak terbendung.
Mama Maria tak henti mengenang perbincangan terakhir dengan Alfonsius yang berencana pulang ke Kabupaten Sikka pada Desember 2026.
Setelah hampir sembilan tahun mengabdi di Papua sejak 2018, ia ingin kembali berkumpul bersama keluarga.
Ia masih memiliki rencana. Masih memiliki harapan untuk pulang dan bertemu dengan orang-orang yang dicintainya.
Dari tanah rantau, Alfonsius juga tidak pernah melupakan keluarganya.
Meski sang ibu kerap mengatakan tidak perlu, ia tetap berusaha mengirimkan uang untuk membantu kebutuhan keluarga.
Namun, rencana kepulangan itu tidak pernah terwujud.
Alfonsius menjadi korban penembakan di Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, Rabu (9/9/2026).
Kabar duka itu mengakhiri pengabdian Alfonsius di tanah Papua, tempat ia bekerja sejak 2018.
Bagi keluarga, Alfonsius bukan hanya seorang dokter hewan.
Ia adalah anak yang dikenal baik, peduli, dan ringan tangan.
Ketika ada warga yang membutuhkan bantuan, Alfonsius sulit untuk berkata tidak.
Pagi-pagi sekali ia sudah berangkat menjalankan tugas, menemui dan membantu masyarakat yang membutuhkan.
Sejak awal putranya berangkat ke Papua, Maria sebenarnya selalu menyimpan rasa khawatir.
Namun, Alfonsius berusaha menenangkan ibunya.
“Mama tidak usah cari tahu. Pokoknya Mama doa saja,” kata Alfonsius.
Kini, doa sang ibu menjadi salah satu bekal terakhir yang mengiringi perjalanan putranya.
Sebelum tragedi terjadi, Alfonsius juga sempat meminta beberapa dokumen keluarga kepada ibunya.
Maria tidak pernah menyangka permintaan tersebut menjadi bagian dari komunikasi terakhir mereka.
Kabar duka datang melalui telepon dari anak Maria yang berada di Kupang.
Saat itu, Maria baru selesai mandi. Mendengar kabar tersebut, ia langsung terpukul dan tidak percaya.
“Saya teriak, saya tidak percaya. Saya bilang, ‘Mama tidak mau! Anak saya tidak ada!’” ujar Maria.
Tangis pun pecah di rumah keluarga Alfonsius di Kelurahan Wailiti, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka.
Anak yang selama ini dinantikan kepulangannya dari tanah rantau akhirnya benar-benar pulang.
Namun, bukan pada Desember seperti yang ia rencanakan.
Bukan pula dengan langkahnya sendiri untuk menemui sang ibu.
Alfonsius pulang lebih cepat dari Papua, setelah hampir sembilan tahun mengabdikan diri di tanah rantau.
Kali ini, kepulangannya adalah untuk selamanya.
“Mama, saya mau pulang bulan 12…”
Kalimat itu kini bukan lagi sekadar rencana kepulangan.
Bagi Maria, kalimat tersebut akan menjadi kenangan terakhir tentang seorang anak yang sangat ia nantikan untuk kembali ke rumah.
Selamat jalan, drh. Alfonsius Albinus Mehan.
Semoga segala kebaikan dan pengabdianmu menjadi amal, serta Tuhan memberikan kekuatan bagi Mama Maria dan seluruh keluarga yang ditinggalkan. (*)
Jumlah Pengunjung: 85

1 day ago
14

















































