IDULADHA – Ketua IKF Mimika, Gabriel Zezo, didampingi ketua dan pengurus sektor, serta warga muslim Flobamora Mimika, menyembelih satu ekor sapi bantuan pemerintah pada perayaan Iduladha 1447 H di kediaman Bpk. Jamal Wuran, salah satu warga muslim Flobamora Mimika, Rabu (27/5/2026). (FOTO:ISTIMEWA)
MIMIKA, timikaexpress.id – Di tengah dunia yang semakin mudah terpecah oleh perbedaan, keluarga besar Flobamora justru menunjukkan hal sebaliknya, yaitu persaudaraan masih hidup, nyata, dan terus dirawat.
Momentum Hari Raya Iduladha bukan sekadar tentang penyembelihan hewan kurban.
Seekor sapi bantuan pemerintah memang menjadi simbol ibadah dan pengorbanan.
Namun lebih dari itu, yang paling terasa adalah nilai persatuan, kasih, dan kebersamaan yang tumbuh di tengah keluarga besar Flobamora Mimika.
Sebelum maupun saat momen Iduladha, umat Islam dan Kristen duduk bersama tanpa sekat. Tidak ada rasa asing, tidak ada jarak, apalagi perasaan paling benar.
Yang tampak hanyalah senyum tulus, saling membantu, dan rasa hormat yang lahir dari kesadaran bahwa mereka adalah satu keluarga.
Mereka boleh berbeda keyakinan dan cara berdoa, tetapi tidak pernah melupakan satu hal penting: leluhur mereka sama, tanah asal mereka satu, dan akar budaya yang mengikat persaudaraan itu bernama Flobamora.
Sejak dulu, masyarakat Flobamora diajarkan bahwa hidup bukan tentang siapa yang paling tinggi agamanya atau paling besar sukunya.
Hidup adalah tentang bagaimana manusia menghargai manusia lain.
Karena itu, perbedaan bukan ancaman, melainkan kekayaan yang harus dijaga bersama.
Mereka percaya Tuhan tidak pernah mengajarkan kebencian.
Semua agama mengajarkan kasih, kejujuran, pengorbanan, dan penghormatan terhadap sesama manusia.
Nilai itulah yang terasa dalam suasana Iduladha.
Umat Muslim menjalankan ibadah dengan khidmat, sementara saudara-saudara Kristen hadir membantu dan menjaga suasana kekeluargaan.
Tidak ada yang merasa lebih penting, tidak ada yang merasa lebih benar.
Yang ada hanyalah kebersamaan.
Inilah wajah Indonesia yang sesungguhnya.
Bangsa ini tidak dibangun karena semua orang sama, tetapi karena semua orang mau hidup bersama dalam perbedaan.
Di tanah Papua yang dihuni beragam suku, agama, dan budaya, nilai toleransi bukan sekadar penting, melainkan menjadi fondasi kehidupan bersama.
Karena itu, perbedaan jangan dijadikan alat untuk menanam kebencian.
Isu agama tidak boleh merusak hubungan persaudaraan yang telah dibangun para leluhur dengan pengorbanan dan kebersamaan.
Ketika masyarakat terpecah, yang hancur bukan hanya hubungan sosial, tetapi juga masa depan generasi berikutnya.
Momentum seperti ini kembali mengajarkan bahwa persaudaraan tidak dibangun lewat kata-kata besar, melainkan melalui tindakan sederhana yang tulus: duduk bersama, makan bersama, membantu bersama, dan menghormati ibadah sesama.
Dari hal-hal kecil itulah lahir kekuatan besar.
Kebersamaan ini juga menjadi pengingat agar keluarga besar Flobamora terus saling merangkul, meski mungkin pernah renggang karena kesibukan, perbedaan pandangan, atau persoalan hidup.
Mereka berasal dari akar budaya yang sama dan dipersatukan oleh semangat persaudaraan yang sama pula.
Momentum Iduladha menjadi jembatan untuk kembali saling mendekat, saling menguatkan, dan saling menjaga sebagai sesama anak Flobamora di tanah rantau.
Dari seekor sapi kurban, tersimpan pelajaran yang jauh lebih besar: bahwa kemanusiaan harus selalu berada di atas perbedaan.
Bahwa manusia mungkin berdoa dengan cara berbeda, tetapi tetap berasal dari tanah yang sama.
Dan selama persaudaraan terus dijaga, Indonesia akan tetap kuat, damai, dan utuh. (*)
Penulis: Gabriel Zezo – Ketua IKF Mimika
Jumlah Pengunjung: 132

11 hours ago
8

















































