AKSI – APELCAMI menggelar aksi damai di Pusat Pemerintahan Mimika untuk menyuarakan aspirasi terkait pelatihan kerja dan penyerapan tenaga kerja lokal, Selasa (26/5/2026). (FOTO: MEGA)
MIMIKA, timikaexpress.id – Asosiasi Pencari Kerja Lokal Mimika (APELCAMI) menggelar aksi damai di kawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Mimika, Selasa (26/5/2026).
Aksi tersebut dilakukan untuk menyuarakan aspirasi terkait penyerapan tenaga kerja lokal dan perluasan akses pelatihan kerja bagi pencari kerja Orang Asli Papua (OAP) maupun masyarakat ber-KTP Mimika.
Koordinator Humas dan Media APELCAMI, Yan Akobiarek, mengatakan pihaknya meminta Pemerintah Kabupaten Mimika dan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) memberikan perhatian lebih kepada para pencaker yang belum pernah mengikuti program pelatihan kerja yang dibiayai melalui Dana Otonomi Khusus.
Menurut dia, asosiasi telah menyerahkan sekitar 384 berkas pencari kerja untuk diakomodir dalam program pelatihan kerja yang akan dibuka pemerintah daerah.
“Kami berharap berkas yang sudah kami serahkan ini bisa diakomodir untuk mengikuti pelatihan kerja. Bahkan kami akan terus melakukan pendataan, terutama bagi adik-adik yang baru tamat sekolah dengan usia minimal 18 tahun agar nantinya bisa mengikuti program pelatihan yang dibuka Disnaker,” ujar Yan.
Ia menilai pelatihan dan sertifikasi kompetensi sangat penting bagi pencaker yang ingin masuk ke dunia kerja, terutama untuk melamar di perusahaan kontraktor yang beroperasi di Mimika.
“Sertifikasi kompetensi ini menjadi syarat dasar bagi pencaker yang ingin melamar di perusahaan kontraktor di Mimika. Karena itu kami berharap ada transparansi agar program pelatihan benar-benar menyentuh mereka yang belum memiliki sertifikat,” katanya.
Selain itu, Yan juga menyoroti tingginya biaya pengurusan sertifikat dan dokumen pendukung kerja di sejumlah lembaga pelatihan kerja di Mimika.
Menurut dia, biaya pelatihan dapat mencapai jutaan rupiah, belum termasuk pengurusan Surat Izin Operasional (SIO) operator alat berat dan SIM B2 Umum.
“Persyaratan kerja ini sangat memberatkan pencaker lokal. Belum kerja saja mereka sudah dibebani biaya mahal untuk sertifikat, SIO, SIM B2 Umum, surat vaksin, hingga pengalaman kerja.
Jadi bukan karena malas bekerja, tetapi karena syarat yang terlalu berat,” tegasnya.
Dalam aksi tersebut, APELCAMI juga menyampaikan apresiasi kepada Kepala Dinas Tenaga Kerja Mimika yang telah menerima aspirasi mereka.
“Kami bukan melawan pemerintah. Ini langkah baik yang harus kami lakukan, karena kalau kami diam maka kami akan terus menjadi penonton di atas negeri sendiri,” ujar Yan.
APELCAMI sebenarnya berharap dapat bertemu langsung dengan Bupati Mimika untuk menyampaikan aspirasi tersebut. Namun, pertemuan tidak terlaksana karena Bupati Mimika sedang tidak berada di tempat.
Meski demikian, pihak asosiasi menegaskan akan terus menyuarakan aspirasi pencaker lokal hingga ada keberpihakan nyata terhadap tenaga kerja asli daerah.
Pada hari yang sama, APELCAMI juga mengaku telah bertemu dengan anggota DPRK Mimika Komisi III, Jan Peterson Laly, yang menerima aspirasi mereka dan berencana menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) kedua terkait persoalan tenaga kerja di Mimika.
Dalam RDP tersebut, APELCAMI meminta seluruh kontraktor di bawah PT Freeport Indonesia serta pihak manajemen perusahaan dipanggil guna mencari solusi terkait penyerapan tenaga kerja lokal.
“Kami sudah menyiapkan ribuan berkas lengkap dan akan terus mendorongnya ke Disnaker maupun perusahaan kontraktor yang dituju,” kata Yan.
Ia berharap perekrutan tenaga kerja di Mimika lebih memprioritaskan masyarakat asli Papua dan warga yang telah lama menetap di Mimika.
“Kami berharap perekrutan tenaga kerja jangan terus dari luar Papua. Berdayakan tujuh suku dan OAP pada umumnya, termasuk saudara-saudara yang sudah lama menetap dan memiliki KTP Mimika,” ujarnya.
Yan juga mengingatkan bahwa tingginya angka pengangguran di Mimika perlu segera ditangani karena berpotensi memicu persoalan sosial di masyarakat, termasuk meningkatnya kriminalitas dan menurunnya pertumbuhan ekonomi daerah. (*)
Penulis: Mega I
Editor: Maurits SDP
Jumlah Pengunjung: 122

4 hours ago
2

















































